Melepaskan Gara

“Leee…..” Kupeluk ia, kuelus kepalanya. Sepiring nasi putih tergenggam di tangan kanannya dengan bibir piring ditempelkan begitu saja ke baju kokonya. Beberapa butir nasi menempel ke baju kokonya. Kau benar-benar tetap anakku yang kecil itu, Le….

“Kok makannya nggak ada lauknya, Le?”

“Iya, kantinnya masih tutup jadi cuma dapat nasi dan sayur. Kalau lauknya kadang pakai abon, dikasih teman.”

“Pernah makan tanpa abon?”

“Ya pernah. Nasi sama sayur asem saja.”

Tanganku menggandengnya menuruni tangga kamarnya, lalu melaju ke luar, ke sebelah pondok, setelah kukatakan mamanya sedang menunggu di luar dan membawakannya banyak ayam goreng KFC kesukaannya.

“Sebagian nanti kukasih teman-teman kamar ya, Yah. Kasihan pada lama nggak makan ayam goreng.”

Inilah, Le, apa yang dulu ayah maksudkan dengan gumaman betapa pintar ilmu saja, taklim, tidaklah cukup untuk menyelamatkanmu dari pagebluk cebong dan kampret. Kau harus menarbiyahi hatimu agar jernih dengan laku-laku riyadhah di sini sehingga akalmu, ilmumu, bisa terpancari kejernihannya.

Gara menyantap dengan sangat lahap setiap iris ayam goreng KFC bawaan mamanya. Sesekali terdengar suaranya bercerita tentang sandal, sikat gigi, odol, dan gantungan bajunya yang di-ghasab, juga ziarah kuburnya ke makam Mbah Mufid.

“Siapa?” tanyaku.

“Mbah Mufid.”

“Kamu sudah bisa bilang Mbah sekarang, ya, Le.”

“Ya kata teman-teman semua juga bilangnya Mbah Mufid gitu, Yah.”

“Memangnya siapa beliau, Le?”

“Pendiri pondok ini.”

Tentu aku hanya sedang mencandainya dengan pertanyaan itu. Ia telah benar-benar menjadi santri—sebagaimana aku dulu.

Tetapi, aku sama sekali tak secuil pun menyelipkan candaan tatkala di sore hari, seusai asar, pamit kepadanya sembari berdoa di dalam hati: Ya Tuhanku Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, karuniakanlah mata air kasih dan sayang-Mu kepada anakku ini berupa ilmu-ilmu yang bermanfaat; ilmu-ilmu yang mengalirkannya pada danau kesalehan, bukan sekadar kealiman, dan lautan akhlak karimah, agar kelak ia tumbuh menjadi sosok yang migunani tumraping liyan. Amin.

Arsip Cerpen di Indonesia