Melepaskan Gara

Sekarang, kau sudah berhasil merasakan derasnya bah perasaanku saat melepaskan Gara?

Putih, gemuk, dan lembek, seperti gajih. Namanya belatung. Ketika belatung-belatung semakin riuh keluar-masuk dari seluruh lubang tubuhku, termasuk telingaku, makin sempurna memamah jasadku, kepalaku, dan seluruh kenangan di dalamnya, hingga aku tak lagi berbentuk serupamu, dan kau pasti akan jijik benar umpama menyaksikan keadaanku, di suatu malam yang gigil dan kelam, sangat kelam. Seorang lelaki kusaksikan dari balik awan-awan seputih kapas sedang menangis seorang diri hingga dadanya bergelombang di teras belakang rumahnya seusai membaca cerita lama ini.

Untukmu di alam kubur, Yah, Al Fatihah, bisiknya dalam hati sembari menyeka air mata. Dialah Gara, anak ayahnya, aku, yang sore tadi tersayat-sayat hatinya karena mesti melepaskannya di sebuah pesantren yang terkenal dengan amaliah salawat, yang selalu membukakan pintu garasi untukku di malam-malam yang panjang.

“Kok kamu belum tidur, Le?” tanyanya.

“Aku nggak bisa tidur,” jawab anaknya.

“Kenapa?”

“Nunggu Ayah…”

“Mau dibuatkan mi goreng?”

“Mau…”

Lalu ia membuatkan mi goreng kesukaan anaknya dan menemaninya makan sampai tandas. Kemudian keduanya bergandengan tangan masuk ke kamar depan dan tidur bersebelahan sambil saling memeluk sampai jelang subuh.

Air mata adalah bahasa kehidupan yang paripurna.

Puisi tersebut dipahatnya di batu nisan ayahnya yang siang malam dikiriminya Fatihah—suatu kelak, ia pun akan diberikan pahatan itu oleh anaknya. Agar aku sama dengan ayahku, tuturnya kepada istri dan anak-anaknya.

 

Jogja, 1 Juli 2019

Edi AH Iyubenu adalah cerpenis dan esais, tinggal Jogja. Bisa ditemui di jagat Twitter lewat akun @edi_akhiles.

Arsip Cerpen di Indonesia