Melepaskan Gara

“Sebulan atau dua bulan, Gara insya Allah juga akan begitu, seperti mereka, kan?” gumamku seakan sedang mengajukan pertanyaan yang tak perlu jawaban kepada Tuhan.

“Ayah tenang saja, aku kayaknya sudah kerasan kok. Di sini banyak teman, jadi bisa enak mainnya, hehe…” Suara Gara menerabas bukan ke liang telingaku, tapi ulu hatiku. Merobek takhtanya di dalam sana dan terus membekas hingga berpuluh tahun kemudian begini.

“Amin, alhamdulillah,” ketika ucapan ini keluar begitu saja dari mulutku menimpali sahutan Gara, mataku terlontar ke seberang, ke jalanan, melintas kelindan tembus ke mana-mana, berpuluh tahun silam kala abah dan ibu yang telah tiada mengantarku ke Pondok Denanyar, Jombang, dan meninggalkanku di antara orang-orang asing itu.

Aku mengisak seusai salat Magrib berjamaah. Sejumlah anak sebayaku juga menangis. Ibu, bertahun kemudian saat aku telah jadi mahasiswa, berkisah tentang pilunya ia sampai berderai air mata di dalam bus selama perjalanan pulang ke Madura karena harus terpisah denganku, anaknya, dan aku tertawa ngakak seusai menyimak kisahnya.

Sekarang, Gara tak menangis, ia malah berkata mulai kerasan, dan tepat pada desiran ucapannya itu akulah yang justru menangis. Pondok membuatku menangis dua kali: dulu saat ditinggalkan orang tuaku dan kini saat mesti meninggalkan anakku.

Debu-debu, sesekali, berkesiut disaput angin. Dalam hitungan menit, senja akan sempurna tandang, lalu digulung kelam, semakin hitam, hingga sempurna legam.

“Le, sudah sore, saatnya Ayah pulang. Ayah pamit dulu, ya,” kataku setelah memastikan air mataku tak lagi tersisa di kelopak mata. Bukankah sebaiknya anak tak boleh tahu bahwa ayahnya sedang menangis karena dera nestapa hidup menjadi seorang ayah?

“Iya, Yah…”

“Nanti hari Jumat, insya Allah Ayah ke sini lagi menengokmu.”

Ia mengangguk. Lalu kurenggut tubuhnya ke dadaku, kupeluk dengan sangat dalam, dalam, dan dalam sekali. Beri aku kata yang lebih tebal dari kata ’’dalam”, maka pelukanku masih lebih tebal lagi. Mamanya lalu memeluknya. Kemudian budhenya. Lalu kakaknya, adiknya, dan sepupunya. Mereka lantas menyeberang ke sisi kiri di depan masjid, aku melaju ke parkiran di sisi utara, Gara tampak berdiri di ujung teras masjid.

Nyaris sepuluh menit kemudian, aku baru berhasil melintas di depan masjid, di seberang Gara berdiri, di tempat tadi aku menangis. Dan Gara masih setia berdiri di situ! Ia berdiri dengan tangan melambai-lambai ke arahku di balik kemudi, berkali-kali mengecupkan jari-jari ke bibirnya, sembari memanggilku.

Arsip Cerpen di Indonesia