Yang Mengutuk Diri Kita

Lalu aku pindah ke mari, ke Takengon, ke Aceh Tengah. Pegunungan dan bebukitan berbaris-baris sejauh mata memandang. Tak ada lagi pantai dan laut. Berharap menjauh dari pantai dan laut, aku mampu melupakanmu. Namun, aku rupanya hanya berpura-pura melupakanmu. Saat riak ombak Danau Laut Tawar menghampiriku, kau pun datang lagi menggoda. Beriak di hatiku. Mengayun-ayun kesadaranku menujumu. Betapa terpaku aku. Diam-diam, saat itulah kenangan mulai jadi kutukan yang berlaku atasku.

***

Ru Yi, kulihat kembali pengalamanmu yang terjadi dengan keluargamu dan cerita rakyat Putri Pukes. Kau pun seakan terbaca dikutuk jadi batu. ‘Batu’ berupa pengapuran di pembuluh darah area jantungmu. Mulai berlaku sejak kau dianggap tak lagi bagian keluarga oleh ayah ibumu. Ru Yi, apa kau diam-diam selama bersamaku menganggap dirimu dikutuk oleh orang tuamu tanpa kau ungkap?

Sangat bisa jadi atas dasar anggapanmu itu, maka kau sampaikan pesan terakhirmu itu. Agar tak mengalami kutukan kenangan seperti pengalamanmu, jangan menoleh lagi ke belakang, ke masa lalu. Jika dilanggar, maka akan mengikat kita pada masa lalu. Menyesaki dadamu. Batu menggumpal dan menghambat darah keluar-masuk jantungmu. Hingga kau mengalami gagal jantung. Hidupmu berhenti berdetak.

Tanda-tanda mulai membatu telah terlihat padamu. Kau mulai sering diam di rumah ketika tak bersamaku. Malas makan. Begitu kata kakakku. Tak selera katamu. Masakan kita beda budaya. Maka kubelikan hainan jifan, wonton, bebek peking, kubelikan makanan kesukaanmu; apa pun yang kau mau. Namun, kau tetap sedikit makan, banyak melamun. Aku sebenarnya curiga kau merindukan ibu ayahmu, ingin kembali ke masa lalu. Tapi kau tak mengakui. Menyembunyikan isi hatimu.

Tanda membatu makin terlihat. Suatu ketika kau merasa nyeri di dada kirimu. Lain kali kau mudah cepat lelah dan pusing. Kau bilang karena masuk angin. Belakangan makin menjadi-jadi nyeri dan sesak di dada kirimu.

Saat periksa di klinik, dokter memvonismu kena penyakit jantung. Terjadi pengapuran di pembuluh darahmu yang menuju jantung. Dokter berpesan padamu, mengingatkanku, jangan biarkan dirimu memiliki beban hati dan pikiran.

***

Ayah ibumu telah berkata padamu yang terdengar sumpah. Begitu dingin dan datar. Jika kau telah memilihku, kau dianggap mati. Jangan pernah lagi menoleh dan kembali ke keluarga, ke ayah ibumu. Segala derita harus kau tanggung sendiri. Tiada lagi bantuan, tiada lagi hubungan anak dengan orang tua dan keluarga.

Arsip Cerpen di Indonesia