Yang Mengutuk Diri Kita

Ru Yi, batu kenangan pecah seketika, saat sang pemilik perahu menghentak tali perahu. Menarikku kembali ke tepian. Waktu sewa telah habis. Matahari segera tenggelam. Aku harus pulang pada kenyataan.

Sekali lagi kusempatkan singgah dan masuk ke Gua Putri Pukes. Padanya aku hayati dan belajar memaknai kembali pesan dari masa lalu. Ada yang salah terbaca dan terartikan dari masa lalu.

Ru Yi, aku yakin cintamu yang melimpah padaku, tak mungkin mengutuk kekasihmu ini. Tak mungkin pula ibunda Putri Pukes dan orang tuamu, mengutuk putrinya mengingat luasnya samudera kasih sayang mereka pada anak satu-satunya. Tak mungkin, Ru Yi. Tak mungkin. Seluka apa pun mereka, kasih sayang tak mungkin mati seketika berubah benci hingga mengutuk.

Aku hela nafas dalam-dalam. Pesan itu kuyakin bukan kutukan dari yang tercinta.

Ru Yi, jangan kau melihat Putri Pukes dikutuk orang tua. Jangan kau merasa dikutuk orang tuamu. Aku pun tak merasa kau kutuk. Ayah ibunda Putri Pukes, ayah ibumu, dan kau punya cinta begitu besar, tetapi tak bisa  memilikimu lagi. Karena itu, ditinggalkan pesan peringatan yang mengandung kasih sayang untuk kita.

Segala kenangan paling hidup yang kita alami kemudian hilang tetapi berharap membawa kembali masa lalu kembali di masa kini, bisa membuat kita terpaku; bisa memberatkan langkah kita menuju masa depan; bisa mengalihkan kesadaran kita dari masa depan; bisa membatu kenangan dalam darah; bisa merasa diri terkutuk; bisa  membuat berat kerja jantung hingga mampu membuat jantung tak lagi berdetak.

***

Ru Yi, kini aku telah menikahi perempuan yang berbeda rupa denganmu. Ia selalu ceria dan ceriwis, beda denganmu yang tenang dan kalem. Ceria dan ceriwisnya menghidupkan nyala diriku. Kulitnya sawo matang, tak seputih kulitmu.  Matanya pun bulat dan lebar, tak sipit seperti matamu. Mata yang bisa melihat, berempati, dan menerima masa laluku. Ia tak cemburu ketika nama putri kami kuberi nama Rusyda Ru Yi, yang berarti ‘kecerdasan yang penuh kebaikan dan kekuatan’.

Melalui Ru Yi kecil, terus kucoba meluruhkan yang membatukan hati Ayah dan Bunda. Tak kulupakan jasa dan kebaikan mereka. Tak kuputus yang nyata masih ada.

Sering kukirim pesan dan foto-foto Ru Yi kecil pada mereka. Tak henti kukunjungi Ayah dan Bunda dengan Ru Yi kecil meskipun belum ada penerimaan mereka. Aku tak menyerah untuk masa depan yang cerah. Kehadiran Ru Yi kecil, cucunya, semoga memecah segala batu kenangan.

Arsip Cerpen di Indonesia