Kau terputus sudah dari kehidupan keluarga. Kau telah dilepaskan ke kehidupan baru. Kata-kata orang tuamu kini baru kusadari semakna dengan pesan peringatan ibunda Putri Pukes.
Tangismu pecah di ruang tamu. Duduk sendiri di sudut. Seperti terpidana usai dibacakan vonis.
Aku, yang juga sedang di sana, hendak melamarmu, ingin bangkit memelukmu. Ingin menenangkanmu. Jika kelak derita bertamu, aku akan hadapi. Tapi, kakakku (dan keluarga besarku) yang ikut menemaniku melamarmu, menahanku. Aku cuma bisa menatap sedih padamu.
Kedua orang tuamu duduk berdampingan di sofa, juga memerah mata. Air mata berusaha ditahan. Mereka kutahu terluka. Tak bisa mereka marah pada kita. Sempat mereka bergumam merutuki diri, mengapa dulu menerimaku dan membiarkan kita berakrab ria. Lalu perasaan menyalahkan diri berkembang menjadi kesimpulan dalam kesadaran mereka, bahwa kita dianggap telah mengkhianati mereka.
Aku mencoba mengerti perasaan orang tuamu, bagaimana mereka merasa terkhianati. Kau, anak satu-satunya. Dilahirkan, diasuh, dibesarkan, dididik dalam agama leluhurmu, tak pernah dimarahi, melimpah kasih sayang tercurah, semua maumu dituruti. Namun, saat gadis dan mengenal cinta, tiba-tiba berpindah agama dan siap meninggalkan keluarga. Memilih ikut bersamaku. Begitulah, kau dianggap mengkhianati kepercayaan, kasih sayang mereka. Telah meracuni darah keluarga; racun yang harus dibuang dari aliran darah keluarga.
Aku pun ikut tersangka mengkhianati kebaikan dan kasih sayang orang tuamu padaku. Aku remaja tanggung kala itu. Anak yatim piatu. Minta pekerjaan di toko usaha orang tuamu. Tanpa memiliki kemampuan apa-apa tapi diterima karena kasihan. Meskipun waktu kerja terpotong dengan sekolah, aku tetap diberi kelonggaran. Diberikan juga keringanan, bekerja semampuku dulu. Bahkan saking baik hati orang tuamu, membolehkan aku tinggal dalam keluargamu. Tak perlu lagi aku pulang pergi ke rumah kakakku. Dari situ, takdir mengenalkanku padamu yang baru tamat SD.
Bahkan setamat SMA, orang tuamu membantu biaya kuliahku hingga wisuda. Usai tamat kuliah pun, orang tuamu memberi kepercayaan modal untuk buka cabang toko baru untuk kukelola sendiri.
Mereka juga mempercayakanmu kujaga. Kuantar kau ke sekolah, ke kegiatanmu di luar sekolah, ke kampus, atau ke mana saja kau pergi. Sejak SMP kau juga selalu belajar bersamaku. Keakraban kita menjalin begitu kuat.