Anggap dia adikmu, begitu pesan orang tuamu. Jaga baik-baik. Aku sepenuh hati mengiyakan. Tak ada keraguan untuk tidak menganggapmu adik.
Namun, waktu menebas rasa yang tumbuh antara adik dan kakak. Mencangkokkan rasa baru. Tumbuh menjadi rasa antara gadis dan pemuda. Kita memahami rasa itu sebagai cinta. Namun, cinta kita, bencana bagi mereka. Begitulah, aku menjadi tersangka telah mengkhianati kepercayaan mereka; dianggap merencanakan dan mempengaruhimu untuk ikut denganku.
Ru Yi, kau kan tahu kenyataan sebenarnya. Semua yang terjadi pada kita, tumbuh secara alami. Kondisi telah menumbuhkan rasa manusiawi antara kita. Mekar dan merekah subur cinta tanpa kita buat-buat atau paksakan. Rasa yang tumbuh subur karena telah dipupuki saling mengenal, saling memahami, saling pengertian, dan saling menyayangi antara kita. Rasa yang mampu menghapus perbedaan warna kulit dan agama antar-kita. Rasa yang mampu menyatukan dua budaya antar-kita.
Namun, orang tuamu tak bisa melihat rasa yang tumbuh itu. Rasa kita adalah hama pohon keluarga yang harus dibasmi. Mereka hanya melihat perbedaan yang tak bisa disatukan antar-kita. Perbedaan begitu jauh bagai Timur dan Barat, kata mereka. Dalam hatiku membantah tapi tak kuutarakan; bukankah kita sama-sama manusia belahan bumi Timur, Asia?
Aku tak pernah membantah pada orang tuamu. Semua kuturuti asal tak berkait soal keimananku. Mereka pun tak pernah mempersoalkan keimananku, malah didorong mengamalkan keimananku. Itu akan menjadikanku pribadi yang baik antar-sesama, kata orang tuamu. Hanya satu yang tak bisa kuturuti kemauan mereka; meninggalkanmu.
Ru Yi, aku tak berkuasa mengendalikan hati yang menggelegak padamu. Tak bisa kulihat kau terus menangis dan sakit saat kita tak boleh lagi bertemu. Tak bisa kucabut cinta yang telah tumbuh sempurna.
Aku bersimpuh pada Bunda, pada Ayah – begitu aku memanggil orang tuamu, restuilah kita. Akan kubahagiakan kau sepenuh hati. Akan kubentengi kau dari derita dan kesusahan seperti yang telah kutunjukkan selama hidup bersama kalian. Tak buruk dan rusak dirimu ikut denganku. Sumpahku pun terucap pada mereka untuk menguatkan janjiku. Namun, orang tuamu bergeming.
Ru Yi, aku tak menyerah. Kuyakinkan keluarga besarku, lalu kubawa mereka datang ke rumah untuk mendampingiku melamarmu baik-baik. Kutunjukkan pada orang tuamu, bahwa keluarga besarku mendukungku. Keluarga besarku menerimamu, menerima akan perbedaan antar-kita. Namun, orang tuamu tetap dalam pendiriannya.
***