Kronologi Pembunuhan

Warga setempat makin ramai berdatangan dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sumarna. Ada juga yang mencoba mengintip dari tangga di mana Emak Eti mengintip. Mereka melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri tiga jasad yang membuat mereka bergidik, dan merasakan kengerian tak terkira.

Tanggal 9 Mei, Desa Tawangsari, Kecamatan Kawalu, Kabupaten Tasikmalaya, gempar. Sumarna sekeluarga, yang dikenal sangat ramah kepada semua orang, telah dibunuh dengan kejam. Tak pernah ada kejadian sekejam ini yang terjadi dalam sejarah kabupaten penghasil kerajinan border, payung, dan sandal geulis itu.

***

MALAM itu, Kosasih dengan tenang menuju dapur. Ia membersihkan bekas-bekas darah pada parang, sebelum menyelipkan benda tersebut ke dinding bambu. Malam itu, Kosasih telah menjelma malaikat pencabut nyawa kepada Sumarna sekeluarga.

Namun Kosasih bukanlah sang malaikat pencabut nyawa. Lelaki itu tak pernah ditugasi Tuhan untuk menghabisi nyawa ketiga manusia tak berdosa itu. Kosasih punya tugas sendiri yang telah direncanakannya.

Ia membongkar lemari Sumarna, mengambil perhiasan Euis, uang Rp 2.500.000 milik Sumarna, dan membawa kabur sepeda motor milik Sumarna. Barang-barang itu diperlukannya untuk meresmikan perkawinannya dengan Dedeh, pacarnya di Desa Gentong, Kabupaten Ciamis.

Lelaki berdarah dingin itu melego motor bebek keluaran tahun 2015 itu seharga Rp 3.800.000 dan kemudian ia belikan dua buah cincin kawin dan sebuah kalung emas. Perhiasan Euis dijualnya seharga Rp 1.700.000 ia belikan sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantal. Lalu untuk calon mertua, diberikan uang sebesar Rp 500.000. Uang hasil merampok Rp 2.500.000 dan uang sisanya menjual sepeda motor dan perhiasan disimpannya sendiri.

Bagai seorang saudagar yang mendapat untung besar, Kosasih pun membual kepada Dedeh. Ia berbohong bahwa ia berdagang. Ia bahkan sesumbar, apabila ia dapat laba besar lagi, ia akan membangun sebuah rumah untuk mereka.

***

KEGEMPARAN memang melanda hampir seluruh Kabupaten Tasikmalaya. Pembunuhan semacam itu baru pertama terjadi. Warga menjadi resah. Aparat kepolisian dituntut warga bekerja serius dan berhati-hati. Karena memang Kosasih berhasil menghilangkan semua barang bukti.

Arsip Cerpen di Indonesia