Kronologi Pembunuhan

Malam itu, kunjungan Kosasih yang keempat kalinya ke rumah Sumarna di Desa Tawangsari. Bila hari-hari sebelumnya ia datang minta tolong pinjam uang dan dicarikan pekerjaan. Jumat malam tersebut ia datang hendak meminjam motor. Kepada Sumarna dikatakannya bahwa ia telah mendapat pekerjaan.

“Di mana Engkos bekerja?” tanya Sumarna pada Kosasih waktu itu.

“Di tempat teman jadi ojek online. Pinjamilah saya motor, Kang,” jawab Kosasih.

Pertemuan pukul 23.00 hari Rabu 8 Mei itu belum selesai begitu saja. Mereka ngobrol-ngobrol, seraya menonton acara televisi. Sumarna bersama istri dan anaknya duduk di bagian tengah ruangan. Di layar televisi, acara berita malam menghidangkan berita-berita politik dalam negeri pasca-pilpres dan pileg serempak.

Di luar, hujan turun dengan lebat. Malam itu, Kosasih kembali menumpang tidur di sana, di rumah Sumarna, sama seperti pada malam tanggal 24 April yang lalu.

Hawa dingin yang dikirim hujan membuat seisi rumah cepat terlelap. Kosasih berbaring di ruang tamu di atas selembar matras. Tetapi lelaki itu tidak tidur. Di mulutnya masih terselip sebatang rokok dan asap tipis keluar dan celah bibirnya.

Di rumah itu memang tidak ada siapa-siapa lagi, kecuali Sumarna dengan istrinya, Euis, dan anaknya, Asep, serta Kosasih yang menumpang menginap. Suasana di dalam rumah senyap, tak kalah heningnya dengan di luar, begitu sepi. Bahkan suara jangkrik dan semak-semak di sekitar rumah pun tidak terdengar.

Kosasih bangkit dari lantai tempat ia tiduran beralaskan kasur tipis. Sambil sedikit mengendap-endap, pelan-pelan dibukanya pintu rumah, lelaki itu keluar rumah menembus hujan. Ia mendatangi warung yang masih buka tak jauh dari rumah Sumarna. Di situ dibelinya sebotol minuman keras murahan. Lalu ia berlari kecil meninggalkan warung kembali ke dalam rumah.

Ia membuka tutup botol minuman keras itu dan menenggak minuman itu demi memanasi tubuhnya, aroma alkohol menguar bikin mabuk. Ia pun terus-menerus merokok, bersambung dari batang yang satu ke batang rokok yang lain. Kepulan asap rokok memenuhi seluruh ruangan. Kosasih menyandarkan tubuhnya pada dinding, seperti ada yang berkecamuk di dalam otaknya. Ia duduk dengan punggung menekan keras pada dinding rumah.

Lantas dengan gelisah ia berdiri. Menoleh kanan-kiri. Serupa orang yang sedang mencari sesuatu. Kosasih masuk ke dapur. Matanya terlihat nyalang ketika melihat sebilah parang yang berkilau ditimpa cahaya lampu neon yang redup. Tangannya yang kasar meraih benda tajam itu dan dibawanya ke ruang tamu.

Arsip Cerpen di Indonesia