Pada akhirnya polisi berhasil menyergap dan meringkus Kosasih berkat kesaksian pemilik warung kopi, minuman keras murahan, jamu, dan obat kuat lelaki. Polisi bekerja keras untuk mendapatkan jejak Kosasih.
Pada pukul 18.00 tanggal 17 Mei beberapa polisi berseragam datang mengepung rumah calon istri Kosasih, Dedeh. Saat itu Kosasih baru saja menyalakan lampu teras rumah Dedeh. Menyadari rumah telah diincar polisi, dengan gerakan tipuan Kosasih berhasil menyelinap kabur lewat pintu belakang.
Lelaki berkulit putih itu melarikan diri. Namun, belum begitu jauh ia bergerak, sebanyak tujuh butir peluru bersarang di kakinya. Ia terjengkang dan terkapar di tanah. Tapi Kosasih tidak mati. Malam itu juga, Kosasih digotong ke rumah sakit.
Penduduk yang mendengar pembunuh keluarga Sumarna berhasil ditangkap segera menyerbu rumah sakit di kabupaten Ciamis. Bangsal tempat merawat tahanan polisi itu nyaris ambruk diserang massa. Setelah dirawat, Kosasih digiring ke ruang pengadilan negeri kabupaten Tasikmalaya. “Saya butuh uang untuk mengawini Dedeh,” ujar Kosasih dengan nada tak bersalah.
Jaksa penuntut umum memberikan dakwaan hukuman mati bagi Kosasih, di hadapan majelis hakim pengadilan negeri.
“Perbuatan yang dilakukan terdakwa itu tidak hanya untuk menguasai harta korban, tetapi juga untuk memenuhi kepuasan melihat darah yang mengalir,” kata jaksa dengan suara bergetar.
Kosasih bergeming mendengar tuntutan hukuman mati atas dirinya. Matanya yang liar itu menyorotkan rasa tidak menyesal.
“Ia dihukum mati bukan karena membunuh orang. Tetapi agar orang lain tidak dibunuh pula olehnya di masa mendatang,” ungkap jaksa ketika diwawancarai media.
Dari balik jeruji besi bilik tahanan pengadilan negeri, Kosasih menjawab pertanyaan wartawan. Jawaban yang cukup mencengangkan. “Saya juga sedih atas kematian sahabat saya, Sumarna.”
***
MALAM itu, di beberapa tempat orang-orang masih tampak berkumpul. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung yang menjual kopi, minuman keras murahan, jamu, dan obat kuat lelaki yang masih buka. Makin malam situasi makin sepi, orang-orang yang berkumpul tampak menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba. Apalagi hujan telah turun.