Kosasih, lelaki berkulit putih itu, kembali duduk, menyandarkan lagi tubuhnya pada dinding dan menghabiskan sisa minumannya. Matanya mulai tersirat keliaran yang ganjil, dari kilatan bola mata terkesan kekejian yang menakutkan.
Kadang ia bangkit, kemudian duduk kembali. Bangkit lagi, mondar-mandir, lalu ia berjalan menuju pintu kamar tidur Sumarna yang hanya dihalau selembar kain tirai berwarna kelabu. Sudah ada tiga kali ia berbuat seperti itu.
Kosasih ini memang terbilang kurang ajar dan tak tahu diri. Meski ia pernah dipinjami uang oleh Sumarna, sahabatnya tersebut, untuk melunasi pembayaran perabot rumahnya sebesar satu juta rupiah pada bulan Maret lalu, bahkan pernah pula diberi pinjaman tambahan lima ratus ribu rupiah awal April lalu, ia tak segan menggoda istri Sumarna yang tampak begitu ranum di matanya, bahkan dengan lancang ia menggoda Euis, istri Sumarna, dengan kata-kata seronok.
Pada kali kedua dan ketiga Kosasih menginap di rumah Sumarna, ketika Sumarna tak berada di rumah atau sedang ke warung, ketika Euis berjalan menuju ruang tamu dengan tangkas tangan lelaki ini menyentuh rok istri Sumarna.
Tentu saja perbuatan ini sudah keterlaluan bagi seorang sahabat dan tamu yang telah disambut dengan baik kedatangannya. Namun, Kosasih tak pernah kapok. Pada kali ketiga ia menginap di rumah Sumarna, entah telah berapa kali ia merogoh rok istri sahabatnya tersebut. Euis pun tak mampu melakukan perlawanan, atau melaporkan perihal itu kepada suaminya. Danpada mereka bertengkar atau berkelahi, pikir Euis.
Dan pada kali keempat ia menginap, malam itu Kosasih kembali mengintai dari balik tirai pintu kamar.
Tetapi malam itu Kosasih bukan hendak mengintip pasangan tersebut. Apalagi ingin menyetubuhi Euis. Setelah tiga kali mengintai dan mempelajari suasana kamar, ia masuk ke dalam kamar dengan parang terhunus dan mata gelap. ***
Keterangan:
Nama gang dan nama desa hanya fiktif meski mungkin nama tersebut ada pada peta suatu daerah. Nama kecamatan dan kabupaten dipergunakan untuk keperluan latar cerita belaka.
Tasikmalaya, 6 Juni 2019
Bamby Cahyadi. Lahir di Manado, 5 Maret 1970. Ia hanya menulis berbagai tema cerita pendek. Kesehariannya ia bekerja di industri Restoran Cepat Saji. Buku kumpulan cerpen terbarunya Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (2016).