“Seperti ada separuh bagian yang hilang dari diri saya. Sejak kejadian itu, hidup saya tidak lagi sama,” Linda, gadis dengan kacamata berperawakan pendek berumur sekitar dua puluh lima tahun, mendapat giliran pertama untuk bercerita. Tunangannya, Andreas, adalah salah satu dari dua belas korban yang belum ditemukan. Ia melewatkan dua perjalanan di tahun-tahun sebelumnya, berusaha melupakan Andreas. Namun nyatanya, bayangan tentang tunangannya itu tidak bisa hilang. Di perjalanan ketiga ini, empat tahun setelah peristiwa itu, ia berusaha berdamai dengan takdir. “Saya memutuskan ikut dalam perjalanan ini, semata hanya ingin berpamitan dengan Andreas. Setelah ini, saya akan memulai hidup baru.”
Linda bukan satu-satunya di antara kami berdelapan yang kehilangan seseorang yang dibayangkan akan menjadi teman hidup di masa depan. Zul, tiga puluh tahun, bahkan sudah menentukan tanggal pernikahannya dengan Fitri. “Enam bulan setelah kepergiannya, saya memutuskan untuk menikah dengan gadis pilihan orang tua. Orang tua saya mungkin tidak tega melihat saya sering tiba-tiba berteriak di waktu tidur. Mimpi buruk tentang Fitri terus menghantui saya. Bahkan setelah beberapa tahun menikah dan punya anak, mimpi buruk itu tidak pernah benar-benar hilang. Istri saya memaksa saya untuk ikut perjalanan ini, agar mimpi buruk itu tidak datang lagi.”
Mimpi buruk yang datang setelah peristiwa itu tak hanya dirasakan oleh Zul. Aku dan istriku juga kerap dihantui mimpi buruk di bulan-bulan pertama setelah meninggalnya anak laki-laki kami, anak satu-satunya yang kami miliki. Aku dan istriku kerap mengalami mimpi yang hampir sama. Kami bermimpi anak laki-laki kami berteriak meminta tolong di tempat yang dipenuhi dengan air. Dalam mimpi kami, ia terus berteriak-teriak sebelum akhirnya kehabisan suara dan tubuhnya lenyap tiba-tiba. Teriakan itu bahkan masih terngiang-ngiang di telinga kami sampai hari ini.
Setelah kami, Althien mendapat giliran untuk bercerita. Ia kami tunjuk sebagai pemimpin ritual ini sebab hanya Althien-lah satu-satunya di antara kami berdelapan yang selalu ikut dalam perjalanan tahunan ini. Satu tahun kemudian di tanggal yang sama dengan peristiwa itu, pihak yang bertanggung jawab atas kejadian itu memfasilitasi seluruh keluarga korban untuk melakukan perjalanan ke tengah laut, ke lokasi kejadian. Tidak seluruh keluarga korban berkenan ikut dalam perjalanan sebab rasa trauma dan kehilangan yang mendalam. Di perjalanan pertama, menurut Althien, ada puluhan orang yang ikut. Tidak semuanya kerabat dekat korban, sebab sebagian besar yang ikut adalah wartawan. Di perjalanan kedua, peserta dibatasi hanya khusus untuk keluarga korban. Dan di perjalanan kali ini, peserta yang boleh ikut semakin dibatasi, hanya untuk keluarga korban yang jasadnya belum ditemukan.