Upacara Tabur Bunga

Pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa itu menanggung seluruh biaya perjalanan ini. Kami tahu mereka membayar mahal kepada pemilik kapal agar mau lewat dan berhenti selama beberapa saat di lokasi kejadian. Bahkan dalam perjalanan pertama, mereka menyewa satu kapal khusus yang bukan kapal penumpang untuk memfasilitasi seluruh keluarga korban. Namun harga mahal yang mereka bayar untuk memfasilitasi perjalanan ini tidak akan pernah sebanding dengan rasa kehilangan kami akan orang-orang yang kami cintai.

“Setiap melakukan upacara tabur bunga, saya selalu merasa melihat boneka kesayangan cucu saya mengapung di atas air,” kata Althien bercerita. Menantu dan cucu kesayangannya meninggal dalam peristiwa itu. Setiap melihat boneka kesayangan cucunya mengapung di atas air, ia tahu itu hanya halusinasi. Namun berhalusinasi melihat benda kesayangan anggota keluarga yang hilang bisa memberikan sedikit hiburan baginya, dan karena itulah ia selalu ikut dalam perjalanan ini setiap tahun, yang bahkan anak laki-lakinya sendiri-ayah dari si cucu kesayangan yang meninggal-tidak sekali pun pernah ikut dalam perjalanan ini.

Agustav, lelaki berusia akhir tiga puluhan, barangkali adalah yang paling terpukul dengan kejadian itu. Ia masih terlihat sangat shock walau kejadian itu sudah empat tahun berlalu. Sepanjang perjalanan, ia lebih banyak menunduk dan diam. Ketika ia mendapat giliran untuk berbagi cerita, ia menggelengkan kepala, mengangkat telapak tangannya di depan dada sebagai tanda penolakan.

“Tidak apa-apa,” ucap Althien, “jika memang tidak ingin bercerita, kami bisa memahami.”

Kami bisa memahami apa yang dirasakan Agustav. Istri dan tiga orang anaknya menjadi korban dari peristiwa itu. Seandainya ia tidak membatalkan tiket perjalanannya karena pekerjaan yang datang mendadak, mungkin sekarang ia tidak akan duduk bersama kami. Rencananya, Agustav akan menyusul istri dan anak-anaknya setelah pekerjaannya selesai. Namun berita tentang peristiwa itu menggagalkan semuanya. Hanya jasad istrinya yang ditemukan, sementara jasad tiga orang anaknya lenyap di lautan. Cerita mengenai kemalangan yang menimpa Agustav kami ketahui dari berita di televisi dan koran.

Berkebalikan dengan Agustav, Avi, perempuan gempal berusia empat puluhan, adalah yang paling tenang di antara kami. Raut kesedihan tidak sedikit pun tampak di wajahnya. Sepanjang perjalanan, sesekali ia memeriksa telepon genggamnya, tidak peduli seseorang di antara kami sedang bercerita dan ingin didengar. Dan ketika tiba gilirannya untuk bercerita, ia tergagap segera memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas. “Saya kehilangan kedua orang tua saya. Kenyataan bahwa kedua orang tua saya sudah sepuh dan diabeteslah yang membuat saya bisa tegar. Saya tahu waktu saya bersama mereka memang tidak akan lama lagi. Tapi tetap sedih rasanya menyadari mereka mati dengan cara seperti itu dan tanpa tahu di mana jasadnya berada.”

Arsip Cerpen di Indonesia