Upacara Tabur Bunga

Terdengar percakapan melalui handy-talky yang dibawa dua orang awak kapal yang menemani kami ketika Risty akan memulai ceritanya. Seorang di ruang kemudi mengabarkan bahwa jarak ke lokasi kejadian akan ditempuh dalam lima belas menit ke depan. Setelah percakapan dengan handy-talky itu selesai, Risty kemudian mulai bercerita tentang ayah baptisnya yang meninggal dalam peristiwa itu, tentang mimpi melihat dua belas Rasul berjalan ke tengah laut yang dialaminya pada malam sebelum kejadian. “Saya tidak menyangka bahwa mimpi itu adalah firasat. Nyatanya, ada kaitan antara mimpi yang saya alami dan peristiwa itu. Ada dua belas korban belum ditemukan, hilang di laut.”

“Banyak orang diberi petunjuk berupa firasat, tapi hanya sedikit yang benar-benar bisa menafsirkannya sebelum kejadian,” ucap Althien menanggapi cerita Risty.

Setelah Risty menyelesaikan ceritanya, suasana kabin hening. Sesekali salah seorang di antara kami melirik ke arah handy-talky yang dibawa awak kapal yang menemani kami, menunggu kabar dari ruang kemudi kapan kapal ini akan mulai berhenti.

Kami serempak berdiri ketika terdengar suara panggilan dari handy-talky. Kapal sudah hampir sampai di lokasi kejadian, laju kapal mulai memelan, dan ketika kapal-kapal mulai benar-benar berhenti, Althien mulai memimpin ritual.

Kami berdiri melingkar saling menggenggam tangan. Althien memberi aba-aba untuk berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, sebelum mempersilakan kami berjalan bergantian menuju balkon. Tiga menit untuk setiap orang diberi kesempatan untuk menabur bunga ke tengah lautan, di lokasi kejadian.

“Benarkah di sini tempat kejadiannya?” tanya istriku sambil berbisik ketika Linda mulai berjalan menuju balkon. Aku mengangguk, antara yakin dan tidak yakin, sebab tidak ada tanda apa pun di tengah laut tempat lokasi kejadian.

Tidak ada pusara bagi jasad anak kami.

“Apakah tahun depan akan ada perjalanan ziarah lagi?” tanya Agustav, yang selama perjalanan lebih banyak diam, ketika seluruh anggota rombongan sudah kembali ke dalam kabin. Tidak ada satu pun dari kami yang menjawab pertanyaan itu, tidak pula dua awak kapal yang menemani kami. Pihak yang bertanggung jawab atas kejadian itu sepertinya sudah memasrahkan seluruh perjalanan kami kepada petugas kapal. Tidak ada yang dapat memastikan apakah tahun depan kami bisa melakukan upacara tabur bunga lagi di sini, di tengah laut ini.

Arsip Cerpen di Indonesia