Upacara Tabur Bunga

“Semoga saja,” ucap Althien, antara berusaha meyakinkan kami namun seakan ragu dengan ucapannya sendiri.

Ketika kapal perlahan-lahan mulai berhenti-yang membuat banyak penumpang bertanya-tanya apakah kapal mengalami kerusakan atau tengah terjebak di perairan laut dangkal-kami berdelapan, dengan pakaian serba hitam, melakukan ritual perkabungan menziarahi para korban yang jasadnya belum ditemukan, menabur bunga-bunga ke tengah lautan.

Setelah kami berdelapan mendapatkan giliran untuk menabur bunga dari balkon yang menghadap lautan, perlahan-lahan kapal kembali mempercepat lajunya. Para penumpang yang semula keluar kabin karena kepanasan mulai kembali ke tempat duduk mereka semula, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Hanya sedikit orang yang masih mengenang kejadian itu, peristiwa jatuhnya pesawat ke tengah laut empat tahun silam. Sebanyak 126 kru dan penumpang pesawat itu menjadi korban, 114 jasad ditemukan, sementara dua belas sisanya hilang di lautan.

Kami yang telah kehilangan, tidak akan pernah benar-benar bisa melupakan. 

 

Semarang, 2018-2019

Badrul Munir Chair, lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, 1 Oktober 1990. Buku-bukunya yang sudah terbit antara lain novel Kalompang (2014) dan kumpulan puisi Dunia yang Kita Kenal (2016). Saat ini ia bekerja sebagai dosen filsafat di UIN Walisongo Semarang.

Arsip Cerpen di Indonesia