Beberapa hari kemudian, di sebuah malam yang ramai di pusat kuliner di Alor, Bukit Bintang, aku melihatnya duduk bersama beberapa orang menikmati sea food dan minuman beralkohol jenis bir. Dia terlihat santai. Mereka berbicara dengan bahasa Melayu yang kental diselingi bahasa Inggris. Hal yang sangat biasa ditemui di sini ketika orang berbicara campuran antara bahasa Melayu dengan bahasa Inggris.
Aku tak menghiraukannya. Aku menikmati masakan sea food khas Thailand yang disajikan panas di mejaku. Namun, ketika aku asyik makan, aku tak menyadari kalau dia sudah duduk di depanku. Dia melihatku dengan khusyuk. Seolah ada keanehan dengan cara makanku.
“Kite pernah ketemu di perpusatakaan beberapa hari yang lalu, kan?” katanya membuka percakapan. Aku tak menanggapi dan meneruskan makan dengan santai. “Saya minta maaf. Tak seharusnya saya becakap kasar seperti itu…”
“Tak apa-apa,” kataku. “Tak jadi masalah bagiku,” jawabku.
Tetapi dia benar-benar meminta maaf dan mengatakan kalau hari itu dia memang sedang kesal dan ada masalah sehingga tak suka diganggu dengan pertanyaan yang menurutnya tidak penting. Kukatakan bahwa bagiku pertanyaan itu penting karena itu menyangkut sebuah sejarah di tanah kelahiranku. Mungkin aku mirip orang udik yang begitu senangnya ketika ada seseorang yang tak ada hubungannya dengan Jawa tetapi tertarik dengan sejarah negeriku.
Dia bilang, dia suka membaca buku-buku tentang sejarah buruh dan petani, juga gerakan-gerakan mereka, di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dia sedang studi buruh. Itu menjadi penelitian untuk disertasinya. Dia memang mengambil konsentrasi sejarah buruh di Indonesia, khususnya di Sumatra Timur di masa kolonial. Kukatakan bahwa sudah banyak peneliti Eropa yang menulis sejarah buruh di Deli. Kusarankan dia selain membaca buku-buku Breman, juga harus membaca buku-buku Karl J Pelzer, Anthony Reid, dan banyak sarjana lainnya.
“Kamu harus tahu tentang sejarah Sumatra secara keseluruhan, baru setelah itu lebih ke lokalitas Sumatra Timur,” kataku.
Katanya, dia bukan hanya membaca sejarah buruh di Sumatra, atau sejarah Sumatra secara keseluruhan, tetapi juga gerakan-gerakan buruh dan radikalisasi petani di Jawa. Menurutnya, itu bisa menjadi bahan pembanding untuk studinya di kawasan Deli di masa tanam paksa tembakau di sana. Sebab, katanya, kebanyakan mereka yang bekerja di Deli adalah buruh asal Jawa.