Setelah percakapan itu, kami menjadi akrab dan sering berjanji bertemu. Setiap ketemu, dia selalu membicarakan soal buruh, petani, dan sejarah radikalisme mereka di masa kolonial. Sering aku berkelakar, mengapa tidak mengambil objek penelitian di negerinya, Malaysia. Mengapa harus Indonesia? Katanya, dia tak tertarik karena sejarah perlawanan masyarakat Malaysia terhadap kolonialisme Inggris tak seheroik rakyat Indonesia terhadap Belanda. Menurutnya, Malaysia diberi kemerdekaan oleh Inggris, sedang Indonesia harus menumpahkan darah puluhan ribu orang dalam mencapai keinginannya untuk merdeka.
“Saya kira, apapun bentuknya, berjuang mendapatkan kemerdekaan itu harus dihargai. Aku tahu, rakyat Malaysia juga berjuang keras untuk lepas dari Inggris…” kataku.
Dia bilang bukan tidak menghargai perjuangan rakyat negerinya, tetapi ada semacam passion ketika membaca gerakan rakyat di berbagai daerah di Indonesia. Dia merasa punya gairah yang membuatnya sering pergi ke Deli, Medan, Jakarta, Banten dan beberapa daerah terpencil di pedalaman Jawa yang punya masa lalu yang, menurutnya, sangat heroik ketika memperjuangkan harkat dan martabatnya.
“Aku membaca bukunya Sartono Kartodirdjo tentang pemberontakan petani di Banten 1888. Itu sangat heroik dan membuat andrenalinku menggelegak…”
***
AIDA Binti Muhammad Noor ditangkap oleh Kepolisian Diraja beberapa hari setelah unjuk rasa kaum minoritas keling, India, yang menuntut persamaan hak dalam hal pendidikan. Aku menemuinya di tahanan khusus wanita di Penjara Kajang, Selangor. Tak terlihat sedikit pun kesedihan dan kekecewaan di wajahnya. Dia tetap ceria, seperti semula, saat awal kami berjumpa dulu.
“Aku dituduh sebagai salah seorang penghasut dalam peristiwa itu. Tanpa hasutan pun, mereka akan protes dan melawan. Karena dari awal mereka dianggap warga kelas tiga di sini…” katanya.
Dari awal, aku memang menemukan keanehan dari gadis matang berparas ayu ini. Dia Melayu asli. Tapi dari sikap dan apa yang sering diceritakannya padaku, dia tak terlalu mati-matian membela puaknya sendiri. Dia bahkan pernah bilang, tak sudi dipaksa memakai baju kurung khas Melayu. Katanya, semua itu penuh kepalsuan. Dia mencintai puaknya, katanya, puak yang penuh kasih sayang dan cinta kepada semua manusia tanpa halangan agama, suku, atau perbedaan lainnya. Tapi dia tak suka kemunafikan dan korupsi yang menggurita di semua struktur pemerintahan.