Dia lebih suka memakai jins ketat dan baju atasan yang juga sering ketat. Sering aku dibuat salah tingkah kalau dia memakai pakaian yang oleh sebagian orang dianggap provokatif itu ketika kami kemudian sering bertemu. Dia juga merokok dan minum beberapa jenis minuman yang mengandung alkohol. Bacaan-bacaannya –selain kesukaannya pada gerakan buruh dan petani di Indonesia— juga buku bergenre “kiri” lainnya. Sesuatu yang jarang dibaca oleh anak-anak muda di negara ini. Negeri yang dibangun dengan bungkusan kesantunan dari pakaian dan cara bicaranya. “Aku merasa, pemerintah negeriku tak jauh beda dengan negerimu saat Orde Baru berkuasa,” katanya lagi.
“Ah, sok kamu. Kayak tahu aja…” kataku bercanda.
“Aku memahami negerimu lebih dari aku memahami negeriku sendiri. Persis. Di sini, rakyat harus patuh dengan semua aturan.Tak boleh protes. Semuanya dibatasi…”
“Tapi kan rakyat makmur? Di negaraku, saat Orde Baru berkuasa, semuanya tak boleh, semuanya dilarang, tapi rakyat dibiarkan miskin dan menderita…”
“Apa bedanya? Makmur secara ekonomi tapi tak diberi kebebasan berekspresi dan bersuara?”
“Kadang, kebebasan itu bisa menghancurkan diri kita sendiri…”
“Ah… Kamu penganut otoritarian rupanya…”
“Hahaa…”
Hampir setiap hari aku menjenguknya di tahanan sebelum kemudian dia dipindahkan ke penjara wanita, masih di Kompleks Penjara Kajang setelah pengadilan memutuskan dia dihukum setahun tiga bulan atas keterlibatannya dalam unjuk rasa menentang pemerintah yang berakhir rusuh itu.
Beberapa hari menjelang aku pulang ke Jakarta setelah tesisku rampung, aku melihat wajahnya muram. Tidak seperti biasanya. Segala yang ceria di wajahnya menghilang.
“Kapan engkau nak jumpai aku lagi di sini?” tanyanya dengan suara berat.
Aku menatapnya tajam. Tak biasanya dia seperti ini. “Aku tidak tahu kapan bisa kembali ke sini…”
“Aku akan kesepian dan pasti merasa sedih setiap hari…”
“Teman-temanmu banyak. Saudara-saudaramu pasti akan selalu datang…”
“Aku selalu merasa senang ketika engkau yang datang menjumpaiku. Bersama engkau aku bisa becakap apa saja…”
“Aku akan berusaha ke sini lagi nanti…”