Aida

Kupegang kedua bahunya. Kemudian aku memeluknya. Sesuatu yang selama ini tak pernah kulakukan di hampir dua tahun kedekatan kami.

“Jika  bebas nanti, aku ingin ke Padang. Boleh?”

Aku tersenyum. Berusaha menguatkannya. “Pasti dong. Sangat boleh…”

Dia menatapku. Aku melihat ada sesuatu dalam tatapan itu, tetapi aku berusaha mengalihkan pandangan ke tempat lain. Aku tak bisa membalas tatapannya.

***

“KEBENARAN yang menang. Rezim korup itu sudah tumbang. Saya sudah bebas, Martin. Pemerintah baru membebaskan kami yang selama ini dipidana karena melawan pemerintah…” Kemudian, “Seperti yang kukatakan dulu, setelah bebas aku akan menemuimu di Padang.  Aku ingin ketemu kamu. Aku rindu…”

Itu pesan pendek yang dikirimkan padaku hanya satu jam setelah proses pembebasannya selesai, sebelum sebuah peluru menembus kepalanya saat dia turun dari mobil yang membawanya pulang. Sebuah kelompok ultra-nasionalis garis keras penentang pembauran etnis di Malaysia, mengaku bertanggung jawab atas penembakan itu.

Dan ingatan tentang Aida Binti Muhammad Noor, semuanya, detail, kuinginkan menjadi satu-satunya ingatanku tentang sesuatu. Yang lain, aku ingin menghapusnya, agar dia sendiri yang ada di sana. ***

 

Kuala Lumpur, Agustus 2017 Pekanbaru, Agustus 2019

Hary Budiarto Kori’un adalah wartawan di  Harian Riau Pos, Pekanbaru, Riau.  Lahir di Pati (Jawa Tengah), 3 Maret 1974. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, cerita bersambung (novel) dimuat di berbagai media. Beberapa buku. Buku kumpulan cerpen tunggalnya yang sudah terbit adalah Tunggu Aku di Sungai Duku (2012). Selain menulis cerpen, juga menulis novel, seperti Luka Tanah (2014),  Nyanyian Batanghari (2005), Jejak Hujan (2005), Nyanyi Sunyi dari Indragiri (2006), Malam, Hujan (2007), Mandiangin (2008), Nyanyian Kemarau (2010). Kini sedang menyiapkan kumpulan cerpen tunggalnya yang kedua berjudul Tambang Nanah. Pernah memenangkan beberapa lomba menulis cerpen, novel, maupun karya jurnalistik, tingkat daerah maupun nasional. Mei 2019 ikut Program Sastawan Berkarya ke Wilayah 3T dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan tinggal selama sebulan di Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Arsip Cerpen di Indonesia