“Mau beli emas buat siapa?”
“Buat istriku, Ji.”
“Sudah, tidak usah repot-repot. Kamu urus empang saja, nanti aku yang belikan,” katanya dengan senyum yang mengembang. Senyum yang menenangkan.
Sorenya Kaji Daspan kembali datang menemuiku. Seperti biasa dia tersenyum dan mendekatiku.
“Nih, sekarang kamu pulang sana. Kasih ini untuk istrimu,” ujarnya sambil memberikan gelang emas yang baru dibelinya.
“Berapa, Ji?”
“Berapa?”
“Berapa saya harus menggantinya?”
“Tidak usah,” jawabnya, lantas tertawa kecil.
Aku pulang dengan wajah semringah. Sambil diam-diam masuk rumah, aku menyelinap ke dalam kamar dan menaruh gelang emas di atas meja riasnya. Aku ingin tahu bagaimana reaksi istriku. Tentu saja dia akan tersenyum dan malamnya pasti akan menjadi malam yang panjang untukku. Istriku tak akan lagi cemberut. Aku bisa membayangkan mulutnya yang mirip ikan gurameh itu mengembang, lalu pelan-pelan mencaplok mulutku. Dan betapa pantatnya yang sentausa itu benar-benar membuatku selalu panas di ranjang.
Tapi, apa yang kudapati tidak seperti yang kubayangkan. Malam ketika aku terbangun di kasur depan tipi, aku terperanjat melihat jarum jam menunjuk pukul satu dini hari. Aku tidak tahu persis kapan aku tertidur. Yang kutahu, selepas magrib aku menonton sinetron Berandal Tobat yang dibintangi Sasha Syakila Micin dan Ray Cho.
Gelang emas yang kutaruh di meja rias tidak berubah posisinya. Kulihat istriku tidur menghadap tembok, padahal aku tahu dia paling tidak suka tidur menghadap tembok. Dulu aku sempat menanyainya kenapa dia tidak suka tidur menghadap tembok.
“Sehari-hari aku melihat tembok. Masa tidur pun melihat tembok juga.”
“Kalau kamu di luar rumah, kan tidak melihat tembok.”
“Kamu pikir rumah-rumah itu bukan tembok?”