“Kalau begitu, ke sawah sana. Di sana tidak ada tembok.”
“Memangnya musim tandur, ada juga kalau kemarau begini lihat orang berak.”
“Daripada melihat tembok?”
Lalu dia meremas kemaluanku dan aku menciumnya. Kehangatan semacam ini sudah hilang hampir sebulan. Dan aku tahu, istriku masih belum tidur. Ini kutahu dari cara bernapasnya. Biasanya istriku kalau tidur perutnya kembang-kempis secara teratur. Tapi apa yang kulihat sekarang lain sama sekali. Kulihat punggungnya naik-turun, seperti menahan muatan yang berat. Persis ketika dulu dia cemburu kepada Nok Iti –penyanyi dangdut yang konon digadang-gadang sebagai pengganti Diva Fiesta. Dia cemburu lantaran aku menyuruhnya bergoyang seperti Nok Iti sebelum kami memulai bercinta. Setelah kejadian itu, selama tiga hari istriku tidur sambil menghadap tembok, persis dengan sekarang ini.
“Kamu kenapa, Ni? Marah sama aku?”
Aku tahu persis jika istriku sedang marah dia tidak langsung menjawab. Biasanya dia akan menjawab jika aku sudah bertanya lebih dari tiga kali. Maka untuk mendapat jawaban cepat, biasanya aku langsung mengulang sampai tiga kali dengan pertanyaan yang sama. Dan ketika pertanyaan itu sudah lebih dari tiga kali, dipastikan akan keluar jawaban dari mulutnya yang mirip ikan gurameh.
“Aku mau cerai!”
Dan itulah jawabannya. Sebenarnya aku tidak tahu persis kenapa istriku meminta cerai. Sebab, selama kami berkeluarga tidak ada hambatan yang berarti dalam rumah tangga kami. Apa yang menjadi berat dalam perceraian ini bagiku adalah anak semata wayang kami. Dia sudah menginjak kelas VIII SMP. Tapi, kenapa kemudian istriku tiba-tiba meminta cerai. Dugaan pertamaku barangkali sama dengan dugaan setiap orang pada umumnya.
Cartini
Mungkin ini salahku. Tapi, yang kulakukan ini baik untuk keluargaku, lebih-lebih anakku. Barangkali apa yang setiap orang pikirkan mengenai perceraianku, akan sama. Dan yang paling menyedihkan dari semua itu adalah aku, sebagai istri. Orang akan mengira bahwa aku istri tidak tahu diri. Punya suami yang diberi penghasilan tinggi oleh orang sebaik Kaji Daspan dan diberi kecukupan hidup yang belum tentu setiap orang mendapatkannya. Tentu setiap orang bebas berpendapat. Siapa yang sanggup mencegah mulut setiap orang. Tidak ada, bahkan presiden pun tak akan mampu.