Mungkin ini salahku, tapi bagiku ini baik untuk anakku. Aku menyadari memang sejak suamiku bekerja di empang Kaji Daspan, hidup kami kecukupan. Aku mensyukuri akan hal itu. Lebih dari itu malah. Tapi, hal itu tidak akan cukup untuk menutup kejadian yang akan aku ceritakan. Kejadian ini dimulai ketika anakku ngotot minta dibelikan sepeda motor. Katanya malu jika terus menerus nebeng ke sekolah sama Wartiah.
“Tidak ada uang mau beli pakai apa, Nok?”
“Beli pakai apa sajalah, pakai daun kalau bisa juga tidak apa-apa,” pangkasnya dengan suara serau.
“Kamu itu aneh-aneh saja. Dipikirnya kita punya pabrik penggilingan uang!”
Di tengah kami perang mulut, Kaji Daspan muncul di depan pintu—yang sudah terbuka sejak anakku pulang sekolah. Kaji Daspan menatap kami dengan pandangan seolah-olah kami kucing yang kelaparan. Dan anakku terus mengiau sampai laparnya dipenuhi.
“Ada apa ribut-ribut?”
“Eh, Wa Kaji. Ini Rasmini minta motor kayak orang punya uang banyak saja. Kalau kayak Wa Kaji sih enak, tinggal gesek.”
“Kayak babi ngepet dong, tinggal gesek,” timpalnya lantas tertawa.
“Kayak ning tipi-tipi kah, Wa.”
“ATM.”
“Nah, itu.”
“Sudah, sudah, besok uang DP aku yang bayar. Nanti angsuran tiap bulannya tinggal diterusin. Suamimu kan kerja di empangku, cukuplah kalau cuma bayar kredit bulanan.”
Jawabannya sedikit menenangkanku, tapi juga sekaligus menambah beban baru. Sebab, sebagian gaji bulanan suamiku akan habis hanya untuk bayar angsuran motor. Tapi, untuk menyenangkan anak semata wayang kami, apa boleh buat. Toh uang itu tidak hilang, ada wujudnya.