Oleh Edna Susanti (Singgalang, 04 Agustus 2019)

AKU tidak dapat mengasumsikan jenis kingdom mana yang tengah berkuasa di sini. Yang jelasĀ di negeri antah barantah ini, aku tidak mengenal daya serta lebihku sendiri. Lebih lagi, menguak misteri dalam tabir yang tak pernah kujejal sama sekali, itu bukan hal yang mudah.
Selain itu, aku tidak bisa menamai seonggok rutinitas keramat selama di sini. Aku, Kura-Kura. Aku tidak bisa mengayuh air dengan gencat dan cekat. Aku tidak dapat mengatur kecepatan langkah yang semakin rumit dihitung. Ya, aku kurakura yang diforsir pandai berlari, pandai memanjat, pandai kungfu, pandai angkat besi. Ya, mereka bilang aku serba bisa.
Perkenalkan, negeri misteri. Selamat datang, di arena yang tak tepat dengan ekspektasi. Selamat tinggal, dunia nyata yang hiruk dengan beberapa naungan kegembiraan dan taman penuh bunga. Selamat tinggal si Kura-Kura penikmat matahari pagi serta pengagum kemuning senja. Selamat datang kompitisi yang seharusnya tak berlaku padaku, Kura-Kura. Ini ketikan keyboard keberapa aku mengeluhkan segala macam cerita. Dalam irama nada serta masalah apa lagi yang ingin aku keluhkan? Tidak mengapa, muak membacanya. Tidak mengapa kesal serta kecewa menyertainya, aku tampung segala jenis ekspresi untuk kuluahkan di sini.
Tak mengapa benci menelisik hingga ubun-ubun mendidih panas membersamainya. Aku harus tetap menuliskannya demi sebuah kehidupan si KuraKura dan si Siput. Yang jelas, tersangka dalam kom petensi ini bukan aku. Yang terdakwa di sini bukanlah rakyatnya. Yang pasti, sistematika di kerajaan ini, kabur dan serba samar.
Aku ulas pula keberadaan kingdom ini. Ya, sebuah dongeng tentang diriku dan si Si Siput. Kami tak sejenis, tak sepekerjaan, tak searena, tetapi kami senasib, seiba dan sesuka penguasa meraja. Dalam perlombaan tahunan ini, kami seiring tapi tak sejalan. Banyak yang mesti kami romusha-kan tapi tak mampu kami kerjakan.