Solilokui Kemboja

Arini merindukan ketiga anaknya duduk dalam satu meja panjang, menyantap hidangan bersama-sama. Tetapi mereka sudah memiliki keluarga sendiri. Arini pun tidak meminta yang macam-macam. Ia cuma membayangkan satu hal, seandainya salah satu dari mereka ada yang memerhatikan layaknya perhatian ibu kepada anaknya, tentu sudah lebih dari cukup. Tetapi ia tak menggantung harap setinggi perasaannya. Bukankah kasih ibu sepanjang masa dan kasih anak sepanjang galah?

Kadang Arini teringat masa mudanya menjadi seorang ibu yang merawat dan menjaga anaknya penuh kasih sayang. Ketika rewel dan menangis, ia bersigegas ke dokter, memeriksa apakah anaknya sakit. Ketika ngompol, ia bergegas membersihkan dan mengganti popoknya. Ketika anaknya bisa menunjuk-nunjuk tanpa harus berbicara, bukan main kebahagiaannya.

Namun, ketika semuanya sudah dewasa, Arini berpikir betapa diam kadang lebih berharga ketimbang bercakap-cakap.

“Kenapa harus kemboja?” tanya Taris, suatu kali ketika pertama ia menitipkan bunga kemboja.

Baca juga: Tenung – Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 25 Januari 2015)

Arini menjangkau noktah di masa lalu. Saat dirinya masih sepantaran dengan gadis bermata agak sipit itu. Usia boleh menggerogoti tulang-belulang, tetapi ingatan tentang kemboja yang menjadi bingkai di atas bingkisan kue cokelat tak bisa lupa begitu saja. Sekuntum kemboja yang memperkenalkannya pada cinta pertama sekaligus cintanya yang terakhir.

Cerita romantis mengalir dari gerak bibir yang tak beraturan itu.

***

Sesaat Arini melihat sekeliling. Ia tidak tahu berapa lama tak sadarkan diri dan terbujur di atas ranjang. Hidungnya dicucuk selang infus. Interior yang didominasi warna putih mengingatkannya pada sekuntum kemboja di teras rumah.

“Kemboja. Di mana kemboja?”

Nuril, yang mendapat giliran menjaga mencoba menangkapnya.

“Kemboja? Kemboja apa?”

“Kemboja. Di mana kemboja?”

Nuril terhenyak dan panik. Ia membaca kemboja sebagai suatu pertanda yang tidak mengenakkan. Bukankah bunga itu identik dengan kembang kuburan?

Arsip Cerpen di Indonesia