Nuril merasakan adrenalin berpacu lebih cepat. Ia segera memencet tombol merah.
Jantungnya berdetak tersaup udara dingin. Perasaannya sangat rapuh bila berhadapan dengan kematian. Nuril keluar. Mengambil ponsel. Menghubungi Akbar dan Taris untuk segera datang.
“Aku melihat tanda-tanda,” kata Nuril.
Selesai diperiksa, dokter mengatakan paru-paru Arini belum bekerja dengan baik. Jantungnya masih lemah. Pikirannya tampak kacau. Ia menyarankan Nuril membeli karangan kemboja.
“Untuk apa?”
“Kemboja bisa menjadi obat terapi untuknya. Ia sangat suka dengan bunga itu.”
“Kenapa harus kemboja?”
“Ketenangan adalah obat paling mujarab bagi pikiran yang kacau. Ketenangan hadir dari kenyamanan. Ibu Anda tampaknya merasa nyaman dengan kemboja. Yah, barang kali Ibu Anda memiliki banyak kenangan dengan bunga itu.”
Nuril baru tahu jika ibunya sangat menyukai kemboja. Ia lekas menghubungi Akbar untuk menyempatkan diri membeli bunga sesuai saran dokter.
Seluruh anak, menantu, dan cucunya datang menjenguk. Dalam kondisi yang sulit bergerak, Arini menatap semringah. Ia tidak ingat kapan terakhir kali anak dan cucunya berkumpul bersama. Aroma kemboja menyesaki ruangan yang serba putih itu.
Seikat kemboja sudah tergenggam di tangan Arini. Ketika ujung hidungnya menyentuh kelopak berwarna merah kesumba itu, Arini merasakan satu kecupan hangat di keningnya. Kecupan seorang suami yang sudah meninggal tujuh tahun lalu.
Kecupan hangat itu membawanya pada saat kain kebaya tergerai dengan kemboja yang melingkar di leher serta tuntunan tangan hangat seorang lelaki yang membawanya duduk di atas pelaminan. Ia memeluk karangan kemboja dan menciumnya kembali. Berulang. Selalu berulang. Tampaknya Arini menemukan jawaban yang pas seperti apa kematian yang indah untuk dirinya.
Baca juga: Slerok – Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 15 Juli 2018)
Akbar memarahi Taris. Ia menilai Taris lalai menjaga kesehatan Arini. Taris mengelak. Justru ia menanyakan seberapa sering kakaknya datang menjenguk. Sebuah pertanyaan yang membuat muka Akbar merasa tertampar dan Taris merasa menang.
“Aku tidak apa-apa. Tak perlu cemas,” kata Arini menengahi. Ada air di ceruk mata Nuril. Akbar mematung. Taris memijit-mijit kaki ibunya.
“Lihat bunga ini. Bunga yang selalu menemani manusia dalam kondisi apapun. Pahit-manis, suka-duka. Bunga ini memperkenalkan Ibu pada cinta pertama sekaligus cinta terakhir. Ketika usia Ibu memasuki tujuh belas tahun, Ayahmu menghadiahkan kue cokelat dengan bingkai kemboja di atasnya.”