Solilokui Kemboja

Pagi belum bermata. Bening embun di ujung daun masih berjibun. Kesunyian menudungi mata Arini. Suara-suara itu kembali menjauh dari pendengarannya. Nuril kembali ke NTB. Akbar kembali ke Bandung. Sebagai anak yang tampak peduli, mereka menitip pesan: jaga kesehatan Ibu. Sementara Taris tambah sulit mencari jalan pulang dengan kamera barunya.

Arini mempunyai hak mengatur mereka. Tetapi ia tahu, memaksakan kehendak hanya memasungkan perasaan dan menimbulkan nyeri di ulu hati. Ia menyorongkan wajah pada sekuntum kemboja. Matanya menatap dalam. Bibirnya terkatup rapat. Sampai di situ Arini menjelma menjadi perempuan bisu. Bercakap-cakap hanya dengan isyarat pandang yang dalam. Sungguh, Arini ingin menjadi sekuntum kemboja. Pilihan yang indah untuk dirinya. (*)

Jember, 03 Oktober 2014

Fandrik Ahmad, cerpenis sekaligus jurnalis yang banyak menulis cerita di sejumlah media seperti Jurnal Nasional, Nova, Republika, Suara Merdeka, Suara Pembaruan, Femina, Jawa Pos, dll. Kini bermukim di Jember, Jawa Timur.

Arsip Cerpen di Indonesia