Solilokui Kemboja

Baca juga: Kubah – Cerpen Fandrik Ahmad (Jawa Pos, 31 Juli 2011)

Arini mengatur nafas. Mengatur kerja paru-parunya.

“Empat tahun berikutnya, kemboja ini kembali menemani Ibu. Ia tidak lagi terbingkai di atas bingkisan kue cokelat dengan satu warna dan satu kelopak. Kemboja ini menjadi hiasan pengantin Ibu. Kemboja yang menuntun Ibu menuju hidup baru.”

Ada yang mengalir di mata Nuril dan Taris. Akbar tampak menyelami makna kemboja di mata Arini.

“Saat perasaan Ibu jatuh karena kehilangan Ayah kalian, kemboja ini tetap menemani Ibu. Bersama mengantar Ayah kalian, menuju pembaringan panjang. Sebuah kehidupan yang tak mungkin lagi bisa Ibu kejar, kecuali menunggu giliran panggilan Sang Pemberi Cinta. Bunga ini menjadi penyampai rindu. Setiap hari, Ibu menyempatkan diri menabur kemboja di atas tanah perkuburannya sebagai abdi seorang istri.” Arini menyeka air mata ketika ada ceruk yang menggenang.

Akbar keluar. Sebagai lelaki, ia tidak ingin tampak cengeng di depan kedua adiknya. Soal perasaan, tiada lelaki dan perempuan, semua sama. Hanya saja menangis di depan perempuan seakan tak layak bagi seorang lelaki.

Senja turun perlahan.

***

Turun dari mobil, Arini tidak diperbolehkan oleh anak-cucunya membuka mata sebelum mereka mengizinkan membukanya. Sesampai di depan rumah, Arini diperbolehkan membuka matanya. Tampaklah kemboja berjejal di sepanjang teras rumah.

“Hadiah dari Akbar,” kata Akbar.

Taris mendorong kursi roda Arini menuju kamar. Di tempat biasa Arini merapikan rambut, seikat kemboja terpantul di depan cermin. Satu lagi, Arini menemukannya lagi di atas laci. Gorden jendela kamar juga bermotif kemboja.

“Hadiah dari Nuril. Aku harap Ibu menyukainya,” kata Nuril.

Hari pertama di rumah, Arini tak ingin melewatinya hanya dengan istirahat. Ia rindu aura rumah yang lama ditinggalkannya. Arini memutar kursi roda ke jendela. Ia sibak gorden. Angin menyentuh pipinya. Lembut.

“Hadiah dari Taris,” kata Taris di belakangnya.

Di bingkai jendela, Arini melihat sebuah taman mini yang dipenuhi aneka jenis kemboja. Sebetulnya ia ingin mengatakan, betapa yang diberikan kepadanya sungguh berlebihan. Ia tak membutuhkan apa-apa selain kebersamaan, seperti saat ini.

***

Arsip Cerpen di Indonesia