Di luar, matahari perlahan meninggi. Namun tukang koran belum juga datang. Hari Ahad memang spesial bagi Koswara. Sedari dulu, bila Ahad tiba, ia belum mau sarapan sebelum membaca beberapa cerita pendek juga puisi yang menghiasi kolom-kolom sastra di beberapa harian media cetak, baik lokal maupun nasional.
Koswara memang pembaca karya sastra. Bahkan lebih dari itu, ia dikenal baik sebagai seorang sastrawan di Kota Bandung. Kota di mana ia lahir, besar, dan juga menghabiskan masa tuanya itu.
Tapi, ihwal puisi Sungai Yangtze, hanya Koswara sendirilah yang tahu kisahnya. Sampai kapan pun ia bertekad menyimpan erat kenangannya itu. Maka, ritual minum teh hijau sembari memandangi tulisan itu, seiring waktu tak lagi menjadi hal yang aneh bagi istri, anak, juga cucu-cucunya.
Seperti di pagi itu, entah sudah yang ke berapa ribu kali ia teringat, untuk akhirnya kembali mencari jawab atas kalimat terakhir yang pernah diucapkan Li padanya.
Dulu, saat mereka berdua sedang menyusuri Jalan Braga, Li sempat berucap pada Koswara.
“Sastra itu mempertemukan. Ia selalu tahu kehendak hati. Bukankah hati dicipta untuk membaca hati yang lain?” tanyanya malam itu pada Koswara. Koswara hanya diam.
“Dan, sastralah jembatannya.” Li pun menutup pembicaraan malam itu.