“Pearl S. Buck menghabiskan banyak waktunya di Cina. Ia banyak menulis tentang Cina. Terlebih masalah kehidupan petani di Cina. Bahkan, karena kecintaannya pada Cina, ia merasa sudah menjadi orang Cina. Namun, ia menentang komunisme-nya Mao Tse-Tung. Karenanya, setelah kembali menetap di Amerika, ia tak lagi diperkenankan masuk ke Cina. Bahkan, pada saat hendak mengunjungi makam ibunya di Cina sekalipun, ia ditolak oleh pemerintahan Mao kala itu.”
“Sungguh?” Koswara tampak serius.
“Hm…hm,” Li mengangguk.
Seiring waktu, Koswara paham mengapa Li begitu menyukai sosok Pearl S. Buck. Karena, pada saat itu, Li begitu berharap orang-orang di Bandung bisa sepertinya. Seperti Pearl S. Buck yang meski bukan orang Cina, namun begitu mencintai Cina.
Seperti yang telah dikemas oleh sejarah bahwa kerusuhan rasial, khususnya terhadap etnis Cina, sangat rentan terjadi kala itu di Indonesia. Dahulu, dalam doa-doanya, Li selalu bertanya pada Tuhannya, serendah itukah Tuhan menciptakan warna kulit berbeda-beda hanya untuk saling menghina? Senista itukah Tuhan mencipta kaum yang berbagai-bagai hanya untuk saling membenci?
Namun pada kenyataannya,waktu itu sudahlah usai. Meski demikian, kerinduan Koswara akan Li tak pernah padam. Entah harus seperti apa, atau bagaimana, ia hanya ingin Li tahu, bahwa kini Koswara adalah seorang sastrawan. Seorang penulis yang sudah banyak menelurkan karya.
Bagi Koswara, Li sangat berpengaruh dalam usahanya belajar sastra. Sebagaimana Li yang pernah berkata dulu bahwa sastra adalah jembatan yang akan kembali mempertemukan keduanya. Ihwal itulah, Koswara menghabiskan banyak waktunya untuk membaca dan menulis.
***