Koswara sangat menyukai kisah itu. Bahkan, setelah masa yang lalu itu sudah sangat jauh tertinggal, kini Koswara paham bahwa kisah tersebut sudah ada sebelum nama Shakespeare tersohor.
Di universitas di mana Koswara mengajar kini, ia sering mengadakan pertunjukan opera “Sepasang Kekasih Kupu-Kupu” itu. Tak hanya dirinya, para mahasiswanya pun sangat menyukai cerita klasik tersebut.
Seperti itulah Koswara menjalani hidupnya. Begitu banyak Li berpengaruh, seperti itu pulalah Koswara merasa bahwa Li masih ada, meski tak tahu di mana rimbanya. Puisi “Sungai Yangtze” juga kisah opera “Sepasang Kekasih Kupu-Kupu” adalah sedikit dari banyaknya kenangan yang menjadikannya kini hidup dengan bersastra. Sebuah dunia yang ia tak pernah ada di dalamnya dulu, sebelum akhirnya ia mengenal Li dan jatuh cinta padanya.
***
Tak lama, dari luar suara langkah kaki terdengar makin keras. Istri Koswara baru saja pulang dari pasar.
“Bah ieu koranna. Nembe teh abdi pendak sareng tukang koranna. Saurna punten, koranna rada telat.” Setelah memberikan beberapa koran pada Koswara, lantas istrinya itu menuju dapur.
Ada lima buah koran di pagi itu. Koswara membuka satu per satu kolom sastra yang di dalamnya memuat cerpen juga puisi. Tak tunggu waktu lama, ia pun langsung melahapnya.
Setelah empat kolom sastra di koran Ahad itu selesai ia baca, tiba saat ia mencoba koran yang terakhir. Lantas, lembar demi lembar koran yang terakhir itu pun ia coba buka dengan perlahan. Hingga, sampai juga ia pada halaman itu, di mana cerpen dan beberapa puisi dimuat di satu halaman yang sama. Cerpen dan beberapa puisi di koran Ahad itu berdampingan letaknya.