Tahun itu 1963. Tahun terakhir sepasang muda-mudi beda etnis itu bertatap mata. Sebelum akhirnya, di bulan Mei di tahun yang sama, sebuah konflik rasial terjadi hebat di Bandung. Toko, rumah, dan aset milik etnis Cina dirusak massa.
Sedari kejadian itu, Li dan keluarganya menghilang. Tak tahu ke mana. Kepergian Li sungguh meninggalkan lara yang tak tertanggungkan bagi Koswara.
Li, sebagaimana arti dari nama itu, adalah orang yang pintar menulis atau segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra dan seni. Tak aneh bagi Koswara dahulu, kala mendapati Li membaca puisi “Sungai Yangtze” itu di hadapannya, serasa Koswara benar-benar sedang berada di sana. Di Sungai Yangtze itu. Dahulu, Koswara pernah bertanya pada Li tentang puisi itu.
“Mengapa kau begitu suka puisi itu?” Li seperti mafhum. Ia yakin, cepat atau lambat, pasti terlontar pertanyaan itu dari mulut Koswara.
“Itu puisi kesukaan Pearl S. Buck,” jawab Li.
Koswara bingung. Kala itu, ia memang tak tahu menahu soal sastra. Lantas, ia pun kembali bertanya.
“Siapa dia?”
“Ia perempuan Amerika pertama yang meraih Nobel Sastra.”
“Lantas, apa hubungannya dengan puisi Dinasti Tang itu?” tanya Koswara dengan saksama.
Li pun tersenyum. Bibir tipisnya merekah. Alis bulan sabitnya sedikit terangkat oleh kernyitan dahi yang putih itu, untuk akhirnya kembali ia coba jelaskan.