Koran Ahad

Angin pagi sepoi-sepoi dari luar masuk melalui jendela. Perlahan membelai mesra tubuh Koswara yang tampak sudah mulai ringkih.

Koswara kembali menghirup teh hijaunya. Setelahnya, ia menatap lagi pada puisi “Sungai Yangtze” yang tak habis-habisnya memberikan kerinduan pada sosok Li-nya itu. Lewat pemutar mp3 di smartphone miliknya, ia memutar lagu “Wan-Wan”. Sebuah lagu utama dalam opera “Sepasang Kekasih Kupu-Kupu”.

Koswara pun kembali terbawa pada cerita Li tentang “Festival Bulan Musim Semi”, di mana sebuah rombongan sandiwara memainkan cerita “Romeo and Juliet” versi Cina.

Kisah itu bercerita tentang perlawanan sepasang kekasih yang dipaksa berpisah oleh kekuatan feodal. Mereka berdua akhirnya tak kuasa bertahan dari tekanan itu dan memilih untuk mengakhiri hidup mereka bersama dengan cara bunuh diri. Namun, di akhir cerita yang penuh tragis, kedua kekasih yang mati itu akhirnya hidup kembali. Mereka hadir dalam wujud yang berbeda. Keduanya bereinkarnasi menjadi sepasang kupu-kupu yang indah. Mereka kembali bersatu dan hidup bahagia selamanya. Tak ayal, seraya mengepakkan sayapnya, kedua kekasih itu menari dan bernyanyi:

Mimpi menyerbuku

Aku berkelana dan akhirnya tiba di tempatmu

Kita duduk di beranda

Dan kulagukan udara nan manis tetapi tua

Lantas kuterjaga

Tanpa ditemani siapa-siapa

Rembulan bersinar

Menerangi kuntum-kuntum bunga yang telah gugur

Membuatku merasa kau telah pergi dan tiada lagi di dunia

Arsip Cerpen di Indonesia