Di Jok Belakang Mobil

Kami pergi ke mana saja. Tanpa arah dan tujuan. Selalu seperti itu. Seolah-olah kami merencanakan suatu vakansi atau perjalanan panjang yang menyenangkan. Padahal kami hanya berputar-putar, meski tak sampai mengukur keliling bumi. Pada awal-awal perjalanan kami yang selalu impromptu, pria itu selalu mengajakku berbicara. Meski ia lebih terlihat seperti orang yang tak berhenti menceracau sendirian. Selama itu, ia tak lebih seperti seorang pemain sandiwara yang kedapatan bagian untuk terus bermonolog dan berkramagung. Di atas panggung yang temaram. Seorang diri.

Racauannya selalu sama, yakni penyesalan-penyesalan yang tak pernah berujung. Pernah suatu kali, ketika usiaku menginjak limabelas tahun, menurut dia, seharusnya aku adalah remaja kelas satu SMA. Tapi dia malah membunuhku, menghancurkan masa depanku. Kemudian, untuk kesekian kalinya, ia menangis tersedu-sedu. Persis seperti tahun pertama aku melihatnya.

Sebetulnya, aku ingin sekali menanggapi semua ucapannya. Aku juga ingin mengatakan kepadanya bahwa masa depan tak bisa ditebak akan hancur atau terbangun hanya dengan tanda kelahiran dan kematian. Yang paling utama, aku ingin bertanya kepadanya mengapa ia membunuhku dan apa hubunganku dengannya. Tapi aku selalu urung melakukannya. Dia pasti ketakutan kalau mendapati bahwa awetan mayat bisa berbicara. Aku juga tidak pernah tahu mengapa aku bisa berbicara. Aku pernah membuat suara-suara aneh karena bosan, dan ternyata pria itu mendengarnya. Berulang kali ia mencoba menghibur dirinya sendiri dari ketakutan-ketakutan yang setiap hari beregenerasi.

Barulah di usia keenambelas aku mulai berani bersuara.

“Aku tidak pernah merasa hancur. Aku sangat senang,” aku berucap lirih, menanggapi derai-derai rasa bersalahnya yang terus ia ulang-ulang selama empat tahun lamanya. Aku tidak bercanda. Aku senang ia meletakkanku tepat di samping jendela mobil di belakang kursi pengemudi, tepat di belakangnya. Aku bisa melihat jalanan yang mulai usang tapi tak berapa lama kemudian menjadi baru. Suatu hari, jalan itu akan kembali usang dan jadi baru lagi. Terus seperti itu. Dan aku tak pernah bosan selama mobil tua ini terus melaju, melewati kendaraan-kendaraan lain, menyalip truk-truk lambat, mengklakson motor-motor yang ugal-ugalan, melewati pohon-pohon yang tinggi, juga sesekali mengambil jalan yang bersebelahan langsung dengan pinggir pantai. Aku selalu senang berada di jalan dan berada pada roda yang berputar dan tak pernah bosan.

Arsip Cerpen di Indonesia