Di Jok Belakang Mobil

Di ruang kemudi, ia kembali menangis berguling-guling. Aku merasa sedih melihatnya seperti itu. Ia seperti pria yang terjebak dalam suatu belenggu yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun. Saat pria itu kembali menyematkan sajak-sajak penyesalan yang terus ia ulang-ulang di mobil sedannya yang sempit dan semakin bau apek, aku malah bertanya kenapa waktu itu ia memutuskan membunuhku. Seperti reaksi yang selalu aku lihat sebelumnya, ia menangis kencang sekali.

Aku tak suka melihatnya bersedih terus-menerus, dan memutuskan langsung mengganti pertanyaan: mengapa ia terus menangis dan bersedih?

Jawabannya selalu sama: ia telah menghancurkan hidupku. Keberadaanku di jok belakang mobilnya adalah rasa bersalah yang menghantuinya: mengikutinya ke mana pun ia pergi. Selama ini ia telah salah sangka: menganggapku masih hidup dan mengira aku benar-benar melempar lelucon di malam hari yang sepi dan ikut berkomentar tentang kendaraan-kendaraan yang mencoba terlibat balapan dengan kami.

Pada hari itu pula, ia menyuruhku membunuhnya. Agar rasa bersalah itu menghilang bersamaan dengan kematiannya. “Bunuh aku!” ia menjerit. Pria tua yang malang itu menjerit. “Kau mau aku mati, kan? Makanya kau terus mengikutiku? Bunuh aku sekarang juga!”

Aku menolak karena tak bisa membunuh. Dan aku memang tak berniat membunuh seorang pun di dunia ini.

Dengan tangan gemetaran, ia menaruhku di bagasi mobil. Aku merasakan mobil usangnya meluncur dengan lebih cepat. Tidak seperti biasanya.

Dan, ternyata, ia membuangku di hutan yang sepi. Aku tak bisa berbuat apa pun. Rasa-rasanya, ia memang sungguh-sungguh ingin membuang rasa bersalah yang menghantuinya. Padahal aku tak pernah menganggap diriku sebagai sebuah “rasa bersalah”. Aku juga tak berniat menghantui siapa pun. Hari itu, aku mengira diriku akan mati terbunuh sepi di dalam hutan yang gelap dan penuh suara-suara asing. Tolol, aku sudah mati. Tak mungkin aku mati untuk kedua kalinya.

Arsip Cerpen di Indonesia