Mungkin, saat aku masih hidup, aku adalah anak kecil yang bercita-cita berkeliling dunia. Meski tak benar-benar melihat negara lain, pria ini sudah mengajakku ke banyak tempat dengan cara-cara yang tak terduga.
“Aku senang bisa mengelilingi banyak tempat. Kupikir kau juga menikmatinya.”
Mendengar itu, ia mendadak langsung mengerem mobilnya. Raut wajahnya menjadi menunjukkan ketakutan. Melalui kaca spion, aku bisa menyaksikan bagaimana matanya bergerak-gerak gusar. Kegelisahan terpancar dari gerak cepat bola matanya. Di dahinya, menetes keringat dingin.
Tak sampai semenit, pria tua itu langsung membuka pintu mobil dan berlari ketakutan. Ia tidak menjerit-jerit. Tapi ia berlari sangat cepat. Dan begitu jauh. Sampai tak terlihat.
Aku menyesal mengatakannya. Sudah kukatakan berulang kali kepada diriku sendiri agar tidak menanggapinya berbicara. Aku bahkan menahan rasa penasaranku untuk tidak bertanya mengapa pria itu membunuhku. Sekarang aku malah mengucapkan kalimat-kalimat bodoh. Ia ketakutan dan mungkin akan meninggalkanku sendirian di mobil ini selama-lamanya.
Namun, tak berapa lama kemudian, pria itu tiba-tiba kembali. Wajahnya kelihatan bahagia. Ia masuk ke dalam mobil dan menatapku sembari tersenyum lebar.
“Kau masih hidup!” jeritnya. “Sudah kubilang, kau masih hidup,” ia memelukku, kemudian tertawa bahagia sekali. Inilah pertama kalinya aku melihatnya begitu senang. Tanpa ada lagi cerita-cerita sedih dan pahit yang terus ia bagi kepadaku-sampai kadang-kadang aku merasa mobil ini begitu sesak karena ia tak pernah sekali pun melempar cerita lucu.
Semenjak itu, kami jadi akrab. Setiap hari kami membicarakan apa pun, semua hal yang kami temui di jalanan dan rentetan lelucon. Hal ini terus berlangsung selama tiga tahun. Pada tahun ketujuh, ia menyadari kembali bahwa aku sungguh-sungguh telah mati. Usiaku sembilan belas waktu itu, tentu kalau masih hidup.