Di Jok Belakang Mobil

Beberapa hari kemudian, ia datang lagi. Ia meminta maaf sambil menangis.

Lalu, pada hari itu pula, ia memberi sebuah tawaran kepadaku.

“Aku akan berhenti kabur dan akan menyerahkan diri. Aku akan bilang pada mereka aku membunuhmu tujuh tahun lalu. Aku akan mengantarmu supaya pergi dengan tenang.”

Ia menatapku dengan raut wajah yang serius. Aku baru menyadari bahwa keriputnya bertambah tiga di sekitar mata dan dahi.

“Kau mengusirku? Aku sudah tenang di jok belakang mobilmu,” aku langsung menyelanya. “Tapi aku tak suka di bagasi. Jangan letakkan aku di sana lagi,” aku tertawa renyah, meski tak kulihat ia juga ikut senang mendengarnya.

Kami berdua seolah-olah tak punya pilihan, meski aku tak ingin pergi. Kemudian, aku memberinya penawaran lain.

“Anggap saja aku masih hidup. Berpura-puralah seperti itu. Dan aku juga akan berpura-pura masih hidup. Anggap saja seperti itu. Aku senang jika kita memang harus berpura-pura agar bisa bersama. Aku suka perjalanan ini, semua yang tanpa arah dan tujuan dan kita menjalaninya begitu saja,” ia menatapku dengan pandangan nanar.

Namun akhirnya ia menyepakati keputusan itu. Kami sama-sama berpura-pura. Ia berpura-pura bahwa aku masih hidup, padahal sudah mati. Dan aku berpura-pura masih hidup, padahal sudah mati. Kami sama-sama “hidup” dengan cara kami masing-masing, meski aku pernah berpikir sebaliknya: kami sama-sama “mati” dengan cara kami masing-masing. Kadang-kadang, batas antara hidup dan mati memang sangat tipis. Bahkan tidak ada sama sekali.

Usiaku dua puluh tiga sekarang, tentu saja jika aku masih hidup. Aku tak tahu berapa usia lelaki tua yang tengah mengemudikan mobilnya dengan cara serampangan ini. Awalnya aku takut, jika ia terus-menerus berkendara dengan cara seperti itu, kami akan menabrak sesuatu dan kemudian mati. Tapi aku sudah mati. Lelaki itu belum.

Arsip Cerpen di Indonesia