Di Jok Belakang Mobil

Namun, meski aku sangat penasaran dan ia telah menawarkan informasi itu dengan sukarela, aku memutuskan tak mau mengetahuinya. Jika dengan mendengarnya membuatku tak lagi seperti bocah laki-laki berusia dua belas tahun yang masih suci-sucinya dan mulai mengerti arti balas dendam, lebih baik aku tetap berpura-pura hidup dan mati untuk kedua kalinya, di kemudian hari. Pada hari-hari yang bukan aku yang menentukan. Begitu pula pria tua di depanku.

“Ngomong-ngomong,” pria itu memecah sepi. “Mulai besok, gantian aku yang berpura-pura mati,” kami tertawa. Perjalanan ini akan terus berlangsung. Bukan karena tujuan kami masih jauh, melainkan kami memang belum ingin berhenti. Lagi pula, kami memang tak memiliki tujuan. Biarlah semua ini berakhir jika memang seharusnya.

“Kapan-kapan aku ingin duduk di kursi depan,” pria tua itu tertawa keras dan menjawab, “Oke!”

 

Lamia Putri Damayanti. Lahir di Magelang dan berkuliah di Yogyakarta. Penerima Anugerah Sastra A.A Navis 2016 dengan cerpennya yang berjudul Hunian Ternyaman. Menerbitkan novel berjudul Dering Kematian dan kini aktif menghidupi Bacasaja.com bersama dua rekannya.

Arsip Cerpen di Indonesia