Di Jok Belakang Mobil

“Jangan menyalip sembarangan, ada truk ngebut di depan. Bisa mati kau.”

“Kita bisa mati,” ia meralat. Aku tertawa. Sesungguhnya ini tidak lucu. Tapi ini sudah malam. Menjelang malam, kami terbiasa melempar lelucon untuk mengenyahkan sepi.

Tapi, hari ini, sepertinya ia tak berniat melemparkan lelucon.

“Aku pikir karena kau mati di usia dua belas, itulah yang membuatmu tak punya niat untuk membunuhku balik,” dia tertawa. “Kau cuma anak kecil yang masih suci-sucinya. Tentu nggak ngerti arti balas dendam. Tapi keberadaanmu di sini, di jok belakang mobilku, sudah membuatku putus asa selama sebelas tahun lebih. Aku tak bisa berpura-pura kau masih hidup. Begitu pula kau. Tapi kita telah berusaha keras selama ini. Berusaha keras untuk berpura-pura. Aku bahkan tidak tahu mengapa kita berusaha sekeras ini. Apakah kita berdua mencoba bertahan? Bertahan untuk apa? Kau sudah mati dan aku ingin segera mati. Dan kenapa aku tak juga mati? Tuhan memang suka bercanda! Ini hukuman tergila.”

Aku melempar diam. Aku tak suka perbincangan seperti ini. Aku lebih suka kami sama-sama berpura-pura. Menganggap bahwa kami sama-sama “hidup” atau sama-sama “mati”. Sesungguhnya, ada banyak orang yang terlihat hidup tapi mati dan begitu pula sebaliknya.

Entah sudah waktunya menghabisi kepura-puraan atau tidak, kami berdua sama-sama tidak tahu. Perjalanan terus berlanjut. Roda berputar. Ia tetap memegang kemudi. Jalanan semakin sepi dan kudengar ia melempar sebuah penawaran yang dari dulu ingin kudengar.

“Apa kau masih ingin tahu mengapa aku membunuhmu waktu itu?”

Aku bergidik. Ngeri. Selama sebelas tahun, “menghidupi” atau sama-sama “mati”-ah, masa bodoh!—di mobil ini tidak ada satu hal pun yang kuketahui tentang pria yang sekarang sedang duduk di jok depan, mengemudi. Tentu saja aku ingin mengetahuinya. Dalam kehidupanku setelah mati, satu-satunya hal yang ingin kuketahui hanyalah berasal dari mana sumber kematianku?

Arsip Cerpen di Indonesia