Madah

Dua hari lagi purnama tiba. Aku dan Damar selalu mendapat tugas untuk mengambil sitar dan kebaya di makam leluhur kami. Maka, sebelum matahari berangsur tinggi, kami segera pergi, dengan membawa sebakul kembang, kendi, dan sebilah parang kalau-kalau kami menjumpai hewan buas.

“Apakah ini kutukan?”

Kubalas pertanyaan adikku dengan lirikan, sambil terus berjalan. Bukan sekali ini Damar bertanya, dan selalu kujawab dengan diam. Saat seusianya dulu aku pun tak henti mempertanyakan hal itu kepada ayah, bahkan dengan nada dan cara yang lebih keras, setiap kali ayah mengajakku menempuh jalan setapak di hutan jati yang tandus ini demi mengambil sitar dan duaja. Ingatanku akan suatu peristiwa terbangun sepanjang perjalanan, terusik oleh pertanyaan Damar tadi.

“Ayah, kenapa tidak kita simpan saja duaja dan sitar itu di rumah?” tanyaku saat itu. Ayah hanya menoleh sekilas, lalu menghentikan langkah.

“Lam, lihat ini. Ini tahi macan. Tapi bukan macan loreng, Lam, ini macan tutul. Atau gogor ya? Hmm…” Ayah melirikku, seakan memancing rasa penasaranku. Biasanya aku selalu tertarik dengan cerita ayah tentang macan yang memang sudah lama sekali tidak terlihat di desa ini. Namun saat itu aku tak peduli.

“Besok aku tak mau ikut ayah ke makam lagi,” ujarku sambil melangkah gegas.

Ayah segera menyusul dan menawarkan air kendi.

“Minum dulu, Lam,” ujarnya. Lagi-lagi aku mengacuhkannya, mempercepat langkah menuju cungkup makam yang terlihat tinggal beberapa jangkau di depan.

Ayah langsung menuju pancuran air dekat sungai di pinggir makam, membersihkan tangan dan kaki sembari membasuh muka. Kulihat jejak tapak dan kotoran macan di sekeliling makam, selalu seperti itu. Anehnya, tak pernah kudapati jejak atau kotoran macan di dalam makam, meski di dalamnya ada gubuk dirundung pohonan beringin yang teramat besar yang kukira sangat nyaman untuk berteduh.

Arsip Cerpen di Indonesia