Brukk. Samar-samar kurasai kaki dan tubuhku ambruk. Pandanganku hanya segaris tipis warna bebatuan tandus, mengabur jauh, teramat jauh. Lirih kudengar suara erangan, dengkur, tapi aku, ah, aku tak sanggup menerkanya.
***
WAKTU terbangun seakan beribu serangga berbisik di telingaku. Langit gelap. Kurabai tubuhku, antara berharap dan tidak, mencari kalau-kalau ada luka dan darah. Tidak ada. Bulan melingkar genap. Ah, ya, jangan-jangan sudah dua malam setidaknya kami di sini. Dibias bulan purnama, jalan setapak yang kulalui seperti bercak-bercak hitam panjang pandangan. Samar-samar kulihat Damar, terduduk bersila dengan parang bebercak darah.
“Ke mana perginya?”
Damar bergeming. Pakaiannya tampak bebercak merah. Ketika aku bertanya apakah dia terluka, dia menjawab tidak sepatah kata. Membayangkan tiga macan itu kembali, nyaliku bergidik. Kuraih tangan Damar dan menariknya berjalan. Apakah kami masih harus mengambil sitar dan kebaya merah itu?
Sesekali kubayangkan muka ayah dan para tetua yang kecut tersebab tak ada kebaya, sitar, dan madah terlagu malam itu. Juga raut muka ibu yang akan berderaian air mata mengenangkan kebaya merah yang tak jadi dipakainya. Ayah dan Ibu, hanya kami berdua yang kau punya. Tidakkah nyawa lebih berharga daripada madah dan selembar kebaya kusam seakan rumah impian yang tak jelas ada?
Bulan bundar di langit masai, kami berjalan dengan langkah dan pikiran gusar tak selesai. Dingin angin kami tak rasa, duri di semak kami tak jera. Selepas jembatan bambu di depan rumah kami berada. Sayup terdengar suara tabuhan dan madah nyaring terdengar. Ah, apa pula itu? Dari jauh kami lihat damar menyala. Dua orang menabuh gendang, kukira ayah salah satunya, sedangkan ibu menari, gerakannya teramat kuhapali.
Damar masih membisu. Ah, betapa dalam perjalanan kembali ini dia hanya diam tak seperti jamaknya dia kerap bertanya. Semakin dekat semakin lekat gambar yang kulihat: ayah mengenakan baju lurik bergaris hitam kebiruan kebanggaannya sembari memetik sitar, ibu dengan baju kebaya merah tua menari dengan duaja dikibar-kibarkan. Lalu dua orang di belakangnya …ah mustahil!