Seakan suatu kekuatan mendekap lekat dadaku. Berdiri di sebelahku, Damar terdiam. Tatapannya, juga tatapanku, menghujam sekerumunan tubuh-tubuh yang sedang menari dengan purnama di ubun-ubun mereka. Ya, tubuh-tubuh yang kami kenali, dengan duaja yang kami kira raib tak kembali. Bahkan kini kami lihat tubuh kami sendiri turut berada di sana, bermadah teramat sendu, teramat merdu, seakan besok kami akan bisu.
Rumah kami rumah kenangan, gerimis doa alun senada. Rumah kami selembar bulan, duaja merah rindu berada. ***
Jatirogo, 2017
KUKUH YUDHA KARNANTA, staf pengajar Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya FIB Universitas Airlangga Surabaya.