Ayah, Ayah, betapa aku terhukum atas air matamu.
Sejak peristiwa itu tak sedikit pun aku bertanya perihal madah yang kami lagukan, juga duaja merah, kebaya, sitar tua, dan segala yang kukira akan mengundang air mata bagi ayah dan ibuku. Kuhalau segala sangsi, sekian ragu, juga perih, setiap kali keluarga kami berlagu menjemput purnama. Jika semua itu adalah kutukan, mungkin saja itu benar, maka aku mesti menjalaninya. Kalaulah tidak, toh aku juga hidup di dalamnya, tak bisa mengelak darinya.
Diam-diam aku akhirnya percaya bahwa ada beberapa hal dalam hidup yang begitu saja melekati diri, seakan sepatu yang tak bisa terlepas ke mana pun diri melangkah, dan bahkan kebal terhadap setajam apa pun kesangsian. Dan air mata ayah barangkali telah menyucikanku dari segala kesangsian itu.
Rumah kami rumah kenangan, gerimis doa alun senada. Rumah kami selembar bulan, duaja merah rindu berada.
“Jadi benar ini kutukan?” Damar bertanya sekali lagi.
“Aku tidak mengatakan begitu,” sahutku.
“Tapi kamu melamun. Melamun berarti benar, Kang.”
Kulihat Damar. Wajahnya lugu dan teduh, meski tak dapat kuingkari sepasang matanya yang baru lepas dari kanak-kanak itu makin tajam menghunus rasa ingin tahu. Tapi aku selalu memilih menjawab keingintahuannya dengan senyuman. Aku tak yakin dia bisa menerima penjelasanku. Ah, mungkin juga bukan penjelasan. Keingintahuan dan penafsiran sering melompat lebih jauh melampaui kenyataan. Maka, kenyataan dan penjelasan bahwa air mata ayah yang menggenangi ingatan kukurasa hanya akan semakin menyalakan rasa keingintahuan Damar yang menyala-nyala.
Angin berhembus teramat kering. Tak ada bebunyian lain kecuali suara ranting-ranting dan ranggas dedaunan jati yang bergesekan menutupi jalan setapak menuju makam. Tinggal beberapa turunan lagi kami tiba. Damar melagukan madah keluarga kami, dengan aneka nada yang dibuat-buat. Aku tertawa. Damar ikut tertawa.
Aku baru akan menantang Damar beradu lari saat kusadari, baru saja kusadari, betapa kami berdua telah melewati turunan jalan setapak ini berkali-kali sejak tadi. Ya, aku yakin. Pohon jati yang tepat bersebelahan dengan seonggok batu besar yang bentuknya menyerupai kepala macan tempat aku menyembunyikan duaja merah yang kemudian hilang bertahun-tahun lalu itu telah kami lewati.