Madah

Aku berdiri tak jauh dari ayah saat ia mendadak kaku, tubuhnya bergetar, mendapati duaja merah bergambar bulan yang akan diambilnya tak ada di tempatnya. Sitar dan kebaya ibu ada, namun duaja itu tak ada. Ayah menoleh kepadaku, matanya awas menembusi relung penglihatanku. Seketika tubuhku gemetaran. Ingin aku menunduk tapi tak mampu. Pandangan ayah seakan memaku kepalaku. Napasku tersengal, terkejut, tak pernah kulihat wajah ayah tiba-tiba berubah seperti seseorang yang tak pernah kukenali.

Ayah meraung, menghampiri setiap sudut di gubuk dan cungkup-cungkup makam. Duaja itu tak ada. Tetap tak ada. Setengah berlari ayah menghampiri pohon asem, kepalanya mendongak seakan mengurai tiap ranting dan rongga di dahannya. Ayah segera melompat, meraih baju kebaya dan sitar, memeluknya seakan dua benda itu tak pernah ia lihat sebelumnya. Saat itulah, pertama dalam hidupku, aku melihat seorang lelaki yang teramat sabar dan tegar menitikkan air mata, meraung dan terisak-isak. Air mata itu teramat sakit, hitam, pekat, seakan endap kesedihan bertahun-tahun kini menemukan celahnya untuk mengalir.

Ayah, sungguh tak pernah kukira dukamu bisa mengarus sekelam jelaga.

Kudapati kesadaranku kembali. Aku segera berlari menuju sungai.

“Lam, Galam.” Tak kuhirau panggilan ayah. Aku melesat ingin segera tiba di tempat yang kutuju, tempat aku sengaja menyembunyikan duaja merah itu beberapa hari yang lalu. Tanganku meraih seonggok batu, berusaha menggesernya. Dadaku berdegupan. Bayangan wajah ayah, suara isaknya, berdengungan di kepalaku, mengaliri urat-urat jariku yang berkeras menggeser batu itu. Tak ada! Ah, tidak mungkin. Duaja itu ku taruh di situ beberapa hari lalu. Kualihkan pandanganku ke sekitar, tetap tak ada. Tak mungkin! Tak mungkin ada yang datang di hutan jati sejauh ini, di sudut seterpencil ini.

Ayah hanya berdiri, diam melihatku. Tak ada keberanian sedikit pun dalam diriku untuk menatap matanya. Hanya kulihat kakinya perlahan bergerak ke arahku. Aku ingin berlari, sungguh ingin berlari. Tapi sekujur tubuhku dihinggapi perasaan yang teramat ngilu menusuk dada hingga tak ada yang mampu kugerakkan atau kudengar, kecuali napasku yang tertatih dan perih. Yang kurasakan hanya jemari ayah mengusap kepalaku, lalu memelukku dengan lembut dan amat dalam. Seakan suatu sesak menjalar dari relung tubuh kini menggantung di kelopak mata. Aku menangis sekuat-kuatnya. Sejadi-jadinya.

Arsip Cerpen di Indonesia