Madah

Matahari telah miring hampir segaris dengan telinga. Tak mungkin, tak mungkin kami menghabiskan waktu selama itu jika hanya untuk tiba di bagian jalan ini, yang masih jauh dari makam. Mungkinkah lamunanku tentang masa lalu tadi teramat membuai hingga tak menyadari jalan yang kulalui? Dan Damar, apakah dia juga tidak menyadarinya?

Damar terdiam menatapku, tatapannya begitu ganjil, teramat aneh. Mendadak kurasakan bulu kudukku berdiri. Bunyi gesekan ranting dan pusaran angin hutan raib. Tapi ada semacam hawa dingin menerpa. Dengan tangan setengah gemetar Damar menunjuk ke arah batu besar itu. Mata Da mar begitu awas tajam menusuk satu titik. Astaga! Tidak mungkin!

Tiga ekor macan loreng berukuran hampir seperti anak kerbau, macan yang selama ini hanya kudengar dari cerita-cerita ayah yang tak juga kupahami itu, berjalan pelan mengelilingi kami berdua. Kupegang erat tangan Damar. Kurasakan tubuhku seakan mengawang, hening, hingga bisa kudengar bunyi napasku sendiri, juga napas Damar, gemetar seakan gentar beradu getar dengan dengus tiga mahluk besar itu.

Jika benar apa yang dikisahkan para tetua desa, betapa macan tidak memakan manusia, namun selalu melukai apa yang ia anggap membawa bahaya di wilayahnya, maka sebentar lagi habislah kami berdua. Namun jika seperti yang dikatakan ayah, macan tidak akan melukai tubuh yang teraliri madah dan niscaya, maka apa yang bisa aku dan Damar lakukan saat ini adalah diam, hanya menabuh gumam sekian doa dan madah dalam dada:

Rumah kami rumah kenangan, gerimis doa alun senada. Rumah kami selembar bulan, duaja merah rindu berada.

Hening. Diam. Kurasai denyut jantungku sendiri, sembari menahan kaki yang mendadak terasa begitu lemah. Tiga macan itu menatapku. Napasnya sesekali terengah. Angin terik mati suri. Desirannya tak kurasakan lagi. Kulirik Damar. Pandangannya seakan tertumbuk pada satu titik, pandangan yang tajam seperti yang biasa ia punyai. Genggamanku dilepasnya perlahan. Ada hawa panas mendadak menguap di punggung hingga tengkuk.

Arsip Cerpen di Indonesia