Berburu Kijang

Sepuluh menit lalu, mereka berjumlah lima orang. Pemuda paling berani di kelompok tersebut dengan gesit mengalihkan perhatian kijang beranak yang mereka jumpai. Ia benar-benar tiada menduga bahwa seekor kijang akan seganas ini. Rencananya, ayah Siman akan memuntahkan dua peluru dari sudut yang berbeda, sementara pemuda pemberani memasang diri sebagai umpan di sudut yang lain.

Awalnya, rencana mereka berjalan dengan mulus, sampai kijang laknat menjadi muntab, lazimnya binatang betina, ia menjadi berkali lipat lebih ganas untuk melindungi nasib anak-anaknya. Tak terelakkan, ia lincah berbalik, biasanya seekor kijang liar akan berlari semburat karena diburu, pontang-panting kabur dari serangan senapan, tapi kali ini ia berbalik marah, dua tembakan peluru yang tidak terduga lolos menghantam angin, binatang ini memutar tubuh, mengacungkan tanduknya yang tajam ke arah si pemuda pemberani.

Dengan dua serudukan, teriakan si pemuda sudah habis. Entah ujung tajam tanduk mengenai sisi tubuhnya yang mana, tapi sudah cukup membungkam mulut Siman dan ayahnya. Kijang itu terus mendorong korbannya ke semak-semak, menyisakan jejak darah di tanah yang dilalui jejak kaki binatang yang mengamuk dibuali amarah.

Setelah puas menghantam lawan, binatang ini menggeleparkan kepalanya, membuang sobekan baju pemuda tadi yang tersangkut di sela-sela tanduknya. Merah bekas lelehan darah. Ia kini menatap empat orang sisa lawannya. Siman tergugu. Baru kali ini ia ikut berburu, langsung dihadapkan dengan tragedi yang tak ia inginkan.

Semuanya memang serba tidak masuk akal. Bagaimana mungkin hanya karena urusan malu, Siman ikut terperosok dalam dunia perburuan yang ia benci. Jangankan menombak kelinci hutan atau membidik burung dengan senapan angin, menyembelih ayam saja Siman tidak tega. Entah kenapa, ia selalu merasa bahwa hewan-hewan itu patut untuk dikasih-sayangi. Tak sampai hati ia menyakiti binatang.

“Bocah bencong,” Marto, abang Siman, kerap mengolok-oloknya. Cemooh itu Siman dengar ketika ia tidak tega menyembelih seekor ayam yang disuruh emak untuk lauk makan malam.

Arsip Cerpen di Indonesia