Siman menahan nafas. Mandaunya tidak berguna lagi, pun tombaknya juga. Bukan karena jarak terlampau dekat atau terlalu jauh. Tulang-tulang Siman serasa dilolosi satu persatu dari tubuhnya. Tenaganya terasa lepas, rapuh, dan tidak berdaya.
Salah satu alasan musim perburuan dilakukan di kala banjir masih muda karena saat-saat itulah waktu binatang-binatang hutan keluar dari persembunyian mereka. Mereka akan keluar demi mencari tempat yang lebih tinggi: babi-babi menggelosor dan keluar dari palung mencari tempat tinggal baru, demikian juga kijang, ayam hutan, kerbau, pelanduk, dan kelinci. Bukan hanya binatang-binatang buruan saja, binatang liar pun terusik: ular piton, sanca, kobra, beruang madu, dan macan dahan mencari habibat yang cocok demi menyelamatkan diri dari air dan berebut tempat nyaman dengan hewan-hewan lain.
Dan perkiraan mereka salah, ayah Siman dan tiga pemuda dusun yang lebih berpengalaman berburu telah menyiapkan diri menghadapi binatang buas liar: beruang madu atau terkaman macan dahan, belitan ular, hingga ramuan penawar racun jika salah-salah terpatok ular berbisa. Namun semuanya sia-sia karena mereka malah dihantam oleh buruan mereka sendiri. Siman bertanya-tanya, merekakah pemburu atau merekalah yang diburu? Semuanya serba terbalik dan di luar nalarnya lagi.
Kini, kijang itu masih berada di hadapan mereka. Siman menoleh cepat ke samping, ke arah jajaran pohon-pohon dan semak-perdu yang setinggi dadanya. Ia memperkirakan laju kecepatan lari dan menyelamatkan diri dari terkaman kijang kurang ajar itu. Dapatkah ia kabur dari situasi mencekik ini? Siman benar-benar tidak dapat menahan diri. Sementara ayah dan dua pemuda itu masih terkencing-kencing ketakutan, Siman melesat bagai peluru ke arah berlawanan. Ia tentu tidak mengira, tidak lagi sempat berpikir tentang kijang marah yang mereka buru; tidak sempat berpikir bagaimana jika kijang itu mengejarnya. Ia hanya tahu satu-satunya cara purba untuk selamat: kabur dan lari sekencang-kencangnya.
Siman tentu tidak menyangka bahwa hewan liar akan demikian peka terhadap gerik kejut dan tiba-tiba. Bisa jadi hal ini luput dari perhatiannya sehingga tepat ketika ia melesatkan kakinya, melompati semak dan jajaran perdu, kijang gila tersebut menolehkan kepalanya ke arah Siman. Tidak lama, dengan dengus dan lenguh keras, ia melompat dan menerjang ke arah bocah celaka tersebut. Sekejap saja, dengan mudah binatang marah tersebut menyusul laju lari Siman. Celakanya lagi, karena tunggur kayu di depannya, baju Siman tersangkut, hingga ia pun menggelepar terjatuh. Tanpa butuh waktu lama, kijang tersebut menerjang dan menghantam tubuh Siman. Sekali sentak, ia menghunjamkan tanduknya yang tajam dan bercabang ke arah punggung bocah tersebut.