Siman terkapar dan menggelepar, menggapai-gapaikan tangannya, berteriak-teriak, mengaduh kesakitan. Tubuhnya berguncang-guncang dilukai tanduk tajam hewan penuh amarah tersebut. Bajunya memerah oleh darah. Ia demikian gaduh hingga menyadari bahwa ia tidak sedang berada di hutan, tidak sedang berburu, tidak juga memegang tombak, tidak sedang bersama ayah dan dua pemuda dusun.
Dengan dengus yang masih memburu, ia mendusin di tengah malam. Baru kali itu ia begitu dibuali rasa takut yang amat dalam, nafasnya tersengal bagai disumpal oleh gelap malam yang sangat kelam. Sambil terengah-engah Siman merasa bahwa ia telah terbangun dari tidur yang amat panjang, sangat panjang, tak berujung, tak berkesudahan….
Â
Yogyakarta, Juni 2018
Abdul Hadi, menulis cerpen dan esai, dimuat di beberapa surat kabar. Cerpennya yang berjudul Perempuan dan Anjing terpilih menjadi cerpen terbaik Asia Tenggara di Pekan Bahasa 2017 oleh Universitas Negeri Sebelas Maret dan Balai Bahasa Jawa Tengah.