Berburu Kijang

Namun, semuanya berbeda gara-gara olokan bedebah ini, pikir Siman. Kenapa kejantanan anak laki-laki harus dikaitkan dengan darah dan kekuatan? Siman mereka-reka sumpah serapah paling kasar di mulutnya. Bisa jadi, detik-detik berikutnya adalah akhir dari hidup seorang bocah dusun di hadapan seekor kijang marah yang gagal mereka buru.

***

Permukiman orang-orang Kutai Dalam terletak di dataran rendah di Kalimantan, sebuah daratan yang unik karena setiap tahun akan terjadi banjir besar yang menenggelamkan ratusan desa di dekat muara. Dengan suka cita, banjir akan disambut oleh warga sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa. Bagaimanapun juga, karena bertempat di dataran rendah, meluapnya sungai Mahakam dipandang sebagai berkah alam. Lebih aneh lagi apabila banjir tidak datang. Bahkan jika terlambat sedikit saja, orang-orang Dayak Lama akan melarung sajen sebagai sembah-tawar kemurkaan Dewa-Dewi mereka.

Oleh sebab itu, apabila kau bertandang ke pedalaman Kalimantan, lalu lintas utama akan kaujumpai menggunakan kapal dan perahu sepanjang lajur sungai. Di bibir-bibir aliran, berderet-deret pemukiman penduduk menghadap ke aliran air. Air sungai Mahakam inilah yang setiap tahunnya akan meluap merendam rumah-rumah penduduk. Sebagai jalan keluar, orang-orang dusun akan membangun rumah-rumah panggung sebagai tempat tinggal. Pasak-pasak tinggi menyangga lantai hingga rumah tampak tinggi. Gunanya, bila banjir melanda, air tidak akan menyentuh permukaan rumah, terbebas dari binatang-binatang liar: ular berbisa, ikan toman gergaji, hingga buaya-buaya badas.

Itulah, awal musim hujan, saat banjir belum jauh meninggi, masa-masa perburuan menjadi pencaharian utama penduduk. Nelayan-nelayan akan memasang jaring, pemburu burung memasang jerat di wilayah rawa-rawa dan dahan pohon, pencari kulit ular bergeriliya memasang perangkap, hingga penombak ikan mulai menyiapkan perkakas untuk memburu ikan di malam hari. Tidak ketinggalan; orang-orang Dayak Benuaq, Iban, hingga Kenyah akan menyisir pemukiman demi berburu babi.

Di sanalah, di salah satu wilayah berhutan, Siman terjebak dalam perburuan celaka tersebut. Sebagai anak bungsu ingusan, ia belum diperbolehkan menenteng senapan rakitan. Bekalnya hanya sebilah tombak kecil dan mandau tumpul yang belum sempat diasah karena bangun kesiangan. Kini, di hadapannya kijang beranak dengan mata semerah saga mendengus menatap mereka.

Arsip Cerpen di Indonesia