Saudara-saudara Siman kerap mengolok-oloknya dengan sebutan bencong karena ia terlampau sering kasihan. Tubuhnya juga kecil dan lemah mirip anak perempuan. Wajar kalau Siman tak kuat memikul karung padi, meskipun karung terkecil sekalipun. Ia merasa sering tak berdaya di antara saudara-saudaranya yang lain. Karena tidak tahan dengan olok-olokan itu, akhirnya Siman memutuskan ikut ayahnya berburu. Sedikitnya membuktikan kalau ia juga jantan dan tak selemah seperti yang diejek saudara atau teman-temannya.
Di suku Kutai Dalam, sebelum Islam datang dibawa pedagang-pedagang dari Jawa dan India, ritual transisi remaja laki-laki untuk kemudian beralih menjadi dewasa adalah dengan berburu. Para bocah laki-laki yang dianggap sudah tumbuh besar dilepaskan di hutan untuk menangkap sendiri hewan buruan mereka. Ini dilambangkan sebagai simbol kemandirian. Apabila ia mampu bertahan di dalam ganasnya hutan, apalagi pulang dengan membawa hewan buruan untuk keluarganya, anak laki-laki tersebut dianggap sudah dewasa dan siap untuk dikawinkan.
Budaya pendewasaan berdasarkan kepercayaan adat tersebut berakhir sampai akhirnya Islam datang. Betapa mudah menjadi laki-laki. Atas ajaran dari punggawa masjid, masa transisi dari remaja untuk dianggap dewasa hanyalah dengan mimpi basah. Akil balig. Apabila anak-anak sudah disunat, ia sudah dianggap remaja. Tak ada lagi budaya buru-berburu. Ibu-ibu dusun bersyukur sejadi-jadinya oleh kemudahan ini. Mereka tak perlu lagi khawatir memikirkan nasib anak-anak mereka yang dilepas di hutan tanpa tahu bagaimana kelanjutan nasibnya. Memang, terkadang ada anak laki-laki lemah yang hingga berhari-hari tak kunjung pulang. Seminggu dua minggu, hingga sebulan. Betapa cemas keluarga yang ditinggalkan. Apabila sekian lama tidak juga kembali, biasanya para pencari rotan menemukan tubuh anak sial bin celaka tersebut dari bau mayat yang sudah membusuk.
Akan tetapi kini, berburu bukan lagi keharusan. Seperti anak-anak Nias tidak lagi harus ikut tradisi lompat batu untuk dianggap dewasa. Waktu telah bergulir, zaman telah mengalir. Meskipun demikian, berburu bagi orang-orang Kutai Dalam masih merupakan pekerjaan bergengsi. Berburu adalah lambang keberanian.