Pesan Kematian

Matahari meninggi, mulai panas, keringat mengalir ke pipi. Aku melihat wajahmu lebih santai. Namun, entah kenapa aku lebih panik. Kau seolah sudah memutuskan sesuatu dari lontaran pertanyaanmu.

“Kita ketemu lagi di taman ini ya?”

Kau hanya mengangguk. Aku sedikit lega, meski sepanjang jalan terus memikirkan kelakarmu.

***

“Apa kamu kenal nomor ini?” Lewat WA aku menghubungimu, meski hanya basa-basi. Aku hanya ingin memastikan kau tidak melakukan yang tak diinginkan. Alih-alih menghubungimu agar tenang, aku malah gelisah setelah kau tidak membalas, bahkan tidak membaca pesanku.

Biasanya aku tidak segelisah ini. Biasanya kau tidak membalas karena sibuk main game. Namun di pikiranku muncul hal lain. Aku takut kau makin stres. Apalagi orang tuamu sekarang tidak menjatah uang data internet setelah kau hanya menghabiskan waktu bersama HP.

Kau tidak membalas pesanku. Namun kau menepati janji untuk datang di tempat kita biasa bertemu. Bahkan kau mandahuluiku.

Kusangka kau telah melupakan pembicaraan kemarin, tapi kau malah makin dirasuki pemikiran lain.

“Hidup ini hanya menunggu tua dan mati. Lebih baik mati muda bukan?” kembali kau membuka pembicaraan tak lucu.

“Orang yang jadi kakek-kakek sudah tidak punya harapan, selain menunggu kematian. Kadang ada yang seperti anak kecil, tak tahu malu ingin diperhatikan. Ada pula yang hanya duduk di rumah, meratapi masa lalu yang tidak mungkin kembali,” katamu setelah kuketahui kau membaca kalimat si pendaki gunung dengan pesannya: nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua.

Arsip Cerpen di Indonesia